Disabilitas dan Pentingnya Mencermati Kasus Keseteraan Pendidikan

disabilitas

2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal yang krusial karena hari Pendidikan seringkali hanya dicap sebagai seremonial belaka. Bukan hari penting semacam Hari Pancasila atau Hari Buruh yang bikin tanggal di kalender jadi merah. Padahal, faktor Pendidikan lebih penting dan jadi pilar utama dalam kehidupan.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan di Hari Pendidikan Nasional adalah dengan mengangkat pentingnya pendidikan bagi semua kalangan. Perayaan bisa dilakukan dengan edukasi kepada masyarakat dengan tingkat sosial berbeda-beda, termasuk mereka yang kurang mereka. Edukasi bisa berupa pentingnya pendidikan sebagai bekal bagi generasi selanjutnya.

Isu penting yang bisa diangkat adalah soal keadilan Pendidikan untuk kaum disabilitas. Kaum disabilitas ini seringkali termarginalkan atau terpinggirkan karena dianggap “berbeda” dari orang kebanyakan. Malah, tidak sedikit kasus sekolah yang tidak mau menangani murid disabilitas dan mengharuskan mereka masuk ke sekolah khusus.

Contohnya pada 2014, KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menerima laporan soal kasus kekerasan pada siswa disabilitas di sebuah sekolah dengan konsep Boarding School.

Kisah lainnya menimpa seorang anak bernama Rofi Firdhan Ilhamda. Warga Kabupaten Lebak, Banten yang tidak bisa masuk SMK lantaran Rofi, hanya bisa berdiri dan berjalan menggunakan satu kaki.

Cerita lain juga menimpa Muhammad Farhan yang menerima perundungan lantaran dari teman-temannya lantaran dia adalah anak berkebutuhan khusus. Videonya sempat viral dan jadi bahan perbincangan warganet.

disabilitas
sumber gambar https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Disability_symbols.svg

Tiga contoh kasus di atas hanyalah contoh dari banyaknya kasus yang terjadi pada kaum disabilitas. Hal ini mengindikasikan bahwa di Indonesia, soal keseteraan Pendidikan bagi disabilitas masih kurang perhatian. Padahal, pada 2015 UNESCO memiliki misi pendidikan untuk semua kalangan anak.

Selain itu, para kaum disabilitas juga memiliki hak setara sebagai manusia dan sebagai warga negara Republik Indonesia. Hak tersebut sudah tercantum pada Pasal 28 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Di dalam pasal tersebut tercantum isi bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kelangsungan hidup setiap warga negara, tanpa terkecuali para penyandang cacat. Mereka (kaum disabilitas) memiliki hak yang sama untuk maju dan berkembang.

Isu kasus disabilitas ini tidak serta menjadikan kita pesimis bahwa kedepan kasus serupa bakal terjadi. Justru dengan hadirnya Hari Pendidikan Nasional, isu ini bisa diangkat dan diperjuangkan oleh banyak kalangan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah membantu atau memotivasi kaum disabilitas untuk terus belajar. Atau mengakampanyekan tentang kisah banyaknya sekolah dan kaum disabilitas yang mengalami proses belajar dan mengajar yang baik.

Salah satu yang bisa dijadikan inspirasi adalah cerita soal Alifia Kamelia. Alifia Kamelia adalah siswa SDN Karangrejo 3 yang mengalmai gangguan pendengaran sejak bayi. Semenjak masuk TK, Alifia memakai alat bantu dengar. Selain itu, Alifia Kamelia juga memiliki guru pendamping yang membantunya untuk belajar.

Alifia Kamelia
Alifia Kamelia, siswa berkebutuhan khusus.
Sumber: https://regional.kompas.com/read/2017/09/22/16371601/kisah-anak-anak-berkebutuhan-khusus-yang-sekolah-di-sd-negeri?page=all

Semangat Alifia Kamelia bisa jadi contoh bagi kaum disabilitas lain untuk terus semangat belajar. SDN Karangrejo 3 bisa juga jadi contoh yang baik dalam mendidik dan memperlakukan kaum disabilitas.

Mengapa kesertaran bagi kaum disabilitas sangat penting? Karena sekali lagi, mereka berhak untuk berkembang dan maju. Bukan tidak mungkin, mereka jadi orang hebat kedepannya dan bekerja di perusahaan besar. Bisa jadi juga mereka jadi founder startup atau perusahan teknologi.

Terlebih sekarang banyak perusahaan teknologi hadir di berbagai negara, contohnya iPrice. Perusahaan yang bermarkas di Malaysia ini adalah perusahaan rintisan yang fokus pada layanan perbandingan harga e-commerce di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Karyawan di iPrice terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama yang berbeda. Semua yang bekerja di iPrice memiliki keseteraaan yang sama. Tidak ada pembeda. Hal yang sama tentu bisa terjadi di dunia pendidikan, dimulai dengan keseteraan pendidikan bagi semua kalangan termasuk di tingkat paling dini. Karena dengan keseteraan, semua orang dan mungkin kaum disabilitas bisa menggapai mimpi mereka.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!