RUANG KULIAH B201

Langit mengerlipkan bintangnya malam ini pada matamu yang bening dan suci.

Dan sungguh aku adalah bumi yang gelap dan laknat.

Semua kembali bercahaya,

bukan karena matahari, bulan ataupun bintang

Tapi karena cahaya hatimu.

“Mengapa kau menulis puisi ini?”

“Entahlah, Pak. Saya begitu saja menulisnya! Ada yang salah dengan saya, Pak?”

“Tidak! Bapak hanya ingin tahu saja!”
“Lalu?”

“Begini, bapak belum bisa memberimu nasihat atau kesimpulan secepat yang kamu kira. Bapak tidak terlalu ahli dalam psikologi, hanya tahu saja”

“Saya mengerti, Pak! Lalu saya harus apa?”

“Kita lakukan secara perlahan. Nanti sore saja. Arah pulang kita sama kan? Kau ikut mobil bapak!”

“Tidak, Pak. Sudah seminggu, aku tidak tinggal di sana lagi”

“Lalu, dimana kau akan tinggal?”

“Untuk sementara numpang di kontrakan temanku, Pak. Mungkin hanya beberapa hari ke depan sebelum pergi ke luar kota”
“Apa kakakmu tahu tentang kau mendapatkan beasiswa penuh S2 itu?”
“Belum kuberitahu”

“Ya, sudah. Bagaimana kalau kamu malam ini menginap di rumah Bapak. Kebetulan istri dan anak-anak sedang bekunjung ke kampung halaman selama empat hari. Anak-anak sedang libur”

“Kenapa Bapak tidak ikut?

“Lusa bapak ada janji dengan promotor”

“Tapi, tidak mengganggu kan, Pak?

“Tidak, kebetulan malam ini tidak ada tugasl”

Beberapa saat hening, kemudian setelah aku keluar, ruangan itu menjadi penuh oleh mahasiswa-mahasiswa Pak Surya.  Aku pergi, dan aku hanya bisa mengenang karena sebentar lagi kampus ini akan kutinggalkan.

RUMAH KONTRAKAN

“Aku tidak percaya, kau cerita masalahmu pada Pak Surya?”

“Aku butuh nasihat orang dewasa, Fadli. Dan Pak Surya orangnya baik dan bijaksana. Tidak ada salahnya, kan?”

“Terserah kaulah, Hasan. Hanya saja masalahmu itu lebih baik tak usah dipersulit. Kamu terlalu banyak mikir dan malah lupa berdzikir, berdoa, kuperhatikan juga kamu jarang shalat malam”

“Yah, akhir-akhir ini aku seperti apa yang kau katakan. Aku lupa besyukur aku diterima S2 di Yogya. Aku lupa bersyukur disanapun aku sudah mendapatkan kerja. Aku hanya berpikir yang susah-susah. Aku sangat berdosa. Rumah dan kakakku selalu jadi bayang-bayang. Kenapa Allah kau memberikan ujian yang paling berat bagiku?”

“Hasan, hal ini bukanlah yang paling berat untukmu. Ini hanya masalah perasaan. Bukankah sebelumnya kau bisa melewati yang lebih dari ini. Dulu ketika keadaan keuanganmu surut, kau mencari cara menjadi loper koran. Saat kuliahmu pernah hancur berantakan gara-gara tak bisa ikut ujian karena belum bayar semester, kau melewatinya dengan tabah. Bahkan, kau pernah cerita ketika usiamu sepuluh tahun, kau…maaf ditinggalkan ibumu, kau mampu melewati hari-harimu sampai sekarang” kami berdua terduduk di kursi. Menghela napas, hening kemudian kupecah kesunyian.

“Fadli, boleh aku meminta air putih?”

“Tidak kopi susu? Malam ini dingin juga hujan, kopi susu saja yah? Biar hangat!”

“Yah, apa sajalah”

Fadli pergi ke dapurnya. Beberapa saat kemudian dua cangkir kopi sudah tersedia di meja. Kami sedikit lama terdiam. Aku tiupi kopi susuku karena masih terasa panas.

“Fad, benar apa yang kamu katakan. Aku tidak belajar dari masa laluku bahwa aku bisa menghadapi ini semua”

“Itu baru Hasan. Ngomong-ngomong kamu katakan semua yang terjadi pada Pak Surya?” Aku memandangnya heran. “Aku hanya ingin tahu” lanjut Fadly.

“Aku cerita semuanya”

“Semua? Tanpa terkecuali?”

“Tanpa terkecuali”

“Yah, kau pasti cerita semua. Kau kan percaya pada Pak Surya. Lalu, apa yang ia bilang?”

“Ia sepakat dengan keputusanku. Hanya saja aku juga salah, Tidak seharusnya aku punya perasaan itu. Yah, habis bagaiamana lagi. Aku sudah bergejala….”

“Yah, tak perlu kau bilang beberapa kali. Kau seorang Oedipus Complex, kau sangat rindu kasih sayang perempuan dewasa. Hasan, sebelum kau pergi meninggalkan Bandung, aku sarankan hadiri dulu pernikahan kakakmu. Meskipun dia kakak tirimu, tapi dia telah merawatmu, bagaiamanapun juga dia kakakmu”.

“Tapi, aku harus sudah berada di Yogya sebelum hari pernikahannya. Lagipula, aku tak ingin membuka luka….” Sebelum kulanjut bicara, Fadli memandangku. Tatapannya penuh arti.

“Fadli, jangan memandangku seperti itu. Aku seperti menjadi makhluk hina. Aku Hamba Tuhan yang sesat, Fad”

“Jaga bicaramu, Hasan. Kau tetap manusia, di Mata Allah semua sama. Bersujudlah malam ini padanya!” ujar Fadli. Nasihat Fadli mengiringi rintik hujan yang mulai beriak membesar. Dan waktu semakin melaju malam……….

TAMAN KOTA

Hari ini adalah hari terakhirku di kota ini. Mungkin aku akan bersua dengan kota ini sekitar dua tahun lagi. Pergi ke Yogya bukan hanya sekedar melanjutkan S2, tetapi lebih dari itu. Aku akan melupakan sesuatu yang pernah terlarang, dan aku akan membuka lembaran baru dengan sendiri, mencari makna hidup ini lebih hakiki.

Kepada Pembina Hatiku

Rosmala Maya Pratiwi

 

Assalamualaikum, Wr.Wb.

Mbak Maya, sebelumnya aku mohon maaf beberapa hari ini tak memberi kabar yang jelas pada Mbak Maya. Mohon maaf pula selama dua minggu terakhir ini, aku  hanya sempat sms satu kali pada Mbak Maya. Terlebih lagi aku mohon maaf karena tak pernah mengangkat telepon dari Mbak Maya ataupun menanggapi sms Mbak Maya. Ada alasan tersendiri mengapa aku melakukan itu semua.

Mbak Maya, Demi Tuhan yang kucintai banyak hal yang terjadi sebelum, ketika dan setelah selesai skripsi. Akupun tidak bisa memaafkan diri saya sendiri atas yang saya rasa selama ini. Dengan lapang, saya mohon agar Mbak Maya tidak merasa tersudutkan atau juga marah setelah selesai membaca surat ini. Aku hanya  ingin Mbak Maya tetap menjadi kakak aku yang paling baik.

Mbak Maya, sungguh Mbak adalah orang yang paling  memperhatikanku. Mbak selalu merawatku. Mbak selalu memperhatikan sedetail-detailnya kehidupanku. Padahal aku tahu, sewaktu kecil Mbak pernah iri lantaran ayah lebih menyayangi ibuku dan aku. Aku ingat ketika aku berumur tujuh tahun dan Mbak Maya berumur sepuluh tahun, kita berdua sama-sama menangis tetapi ayah malah lebih menghiburku terlebih dahulu. Mbak hanya memandang dan Mbak malah semakin menangis. Tetapi ketika ibuku meninggal. Semua berubah. Ayah dan Mbak Maya pindah kota. Aku malah tetap di desa bersama paman karena aku harus masuk pesantren. Dulu aku berpikir bahwa hal ini tak adil. Tapi apa boleh buat lagipula ketika di pesantren aku mendapat banyak pengalaman.

Mbak Maya, aku kira kehidupanku tak akan berubah. Ketika aku kemudian melanjutkan kuliah aku punya pengalaman baru. Aku seperti punya keluarga kembali. Tetapi hal itu tak lama karena pada semester dua aku kuliah, ayah kita meninggal karena penyakit kankernya. Akirnya di rumah yang ayah tinggalkan kita hidup berdua. Kehidupan bersama Mbak Maya membuat hiupku berubah. Mbak Maya penuh perhatian. Setelah Mbak Maya lulus kuliah, Mbak tidak mau langsung menikah, padahal banyak sekali lelaki yang mendekati Mbak mulai dari Mas Firman, Mas Angga, serta Mas Randu. Mbak menolak permintaan dari mereka untuk menikah karena Mbak lebih memfokuskan untuk membiayai kuliahku. Jujur aku menjadi tersanjung Mbak. Kehidupan panjang bersama Mbak malah menimbulkan perasaan gerilya yang tak menentu Mbak. Aku menjadi suka wanita yang lebih dewasa dariku. Seperti Mbak Maya yang tak hanya menjadi kakakku, tak hanya jadi temanku, Mbakpun menjadi Ibuku bahkan Mbak seperti (maaf Mbak kalau aku lancang) seperti Istriku.

Mbak pasti kaget mendengar pernyataan terakhir ini. Maaf Mbak mengagetkanmu tetapi begitulah kenyataannya. Akupun tak bisa menahan emosiku. Aku malah menulis puisi cinta buat Mbak Maya, tapi aku takkan menunjukannya. Rasanya malah tambah dosa. Aku cerita hal ini pada teman baikku Fadli juga seorang dosen yang dapat aku percaya, Pak Surya. Mereka berdua memberiku nasihat agar aku cepat-cepat membuang perasaan itu. Akupun memutuskan untuk pergi dalam jangka waktu lama dari kehidupan Mbak. Bukan aku tak tahu terima kasih, tetapi aku bakalan berdosa bila aku tetap di rumah bersama Mbak. Aku juga makhluk biasa yang  punya hasrat serta keinginan. Terimakasih dan maaf atas segalnya Mbak. Jangan mencariku karena mungkin ketika Mbak membaca surat ini aku ada di Yogya untuk melanjutkan kuliah S2. Jangan khawatir masalah biaya karena aku mendapat beasiswa penuh tetapi untuk jaga-jaga aku kini sudah bekerja.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

 

Salam

Hasan Alkusaeri

 

Aku meneteskan airmata ketika ku tulis kata demi katanya. Sungguh aku merasa berdosa tetapi akan lebih berdosa lagi bila aku tak melakukan hal ini semua. Aku takut tak dapat menjaga diriku. Sore itu di taman kota aku hanya menangis bersama angin yang bernapas tiap hembusannya.

WISMA, YOGYA

Di kota pelajar ini aku tinggal di wisma cuma-cuma yang disediakan kampus. Sudah tiga bulan lebih aku di Yogya, aku mulai menemukan kehidupanku. Akupun masih sering komunikasi dengan Pak Surya serta Fadli. Akupun tak susah beradaptasi dalam berbahasa disini karena akupun keturunan Jawa. Aku terlahir di daerah Banjar, tepatnya di daerah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Timur. Ketika umurku enam tahun, aku pindah ke daerah Ciamis dekat salah satu situ terkenal. Kepindahanku disebabkan karena anak dari istri pertama ayahku yaitu Mbak Maya seperti merasa tak betah di Banjar. Ibu Mbak Maya sendiri telah meninggal ketika melahirkan Mbak Maya. Karena Ayahku ingin anak lelaki maka kemudian ia bertemu Ibuku dan menikah lagi yang kemudian lahirlah aku.

Di wisma akupun mempunyai teman berbagi, namanya Alfi. Aku juga cerita padanya tentang kehidupanku di Bandung. Aku cerita karena akupun mempercayainya seperti halnya aku mempercayai Fadli dan juga Pak Surya. 

“Ada surat untumu Hasan!” kata Alfi begitu aku tiba di wisma.

“Dari siapa?” tanyaku

“Entahlah, tak ada nama pengirimnya” Alfi memberikan surat padaku

Beberapa saat kemudian aku berbaring di kasur sambil membaca isi surat sedangkan Alfi duduk di meja komputer. Aku sangat kaget dengan isi surat itu.

“Kalau boleh tahu, dari siapa?” tanya Alfi dengan penuh keingintahuan

“Mbak Maya”

“Bagaimana dia tahu alamatmu di sini?”

“Dia mendatangi universitas, ia katakan di surat ini”

“Lalu?”

“Mbak Maya ingin aku berkunjung ke Bandung, ia kecewa aku tak datang pada pesta pernikahannya. Mbak Maya tak mempersalahkan persolaanku dulu.  Pamankupun rindu sekali denganku. Tetapi aku tak mau pergi ke sana. Untuk beberapa lama aku ingin di sini mendinginkan kepalaku”

“Hasan, aku tidak bermaksud menasihatimu. Tetapi keluarga tetaplah keluarga. Kakakmu biasa-biasa menanggapimu. Ia kini bahagia. Menurutku jika kau tak ke sana, ia malah lebih tersiksa”

“Tetapi, Alfi…”

“Tidak tetapi, Hasan. Kau anak baik. Menurutku kau cukup kuat hati untuk datang menemui kakakmu yang baik hati. Aku sarankan, pulanglah sekarang. Kunjungi kakakmu! Kau adik yang baik, Hasan”

Keadaan hening dan aku menemukan diriku bahwa aku juga memang merindukan keluargaku. Aku hanya mempersulit diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Aku memang bersalah, pikiranku kacau, hatikupun berkecamuk. Aku ingin datang ke Bandung, tetapi ada batin lain yang mengatakan bahwa aku tak perlu datang kesana.

“Tak perlu bingung lagi, Hasan. Pulanglah! Bukan untuk kesalahanmu tetapi untuk keluargamu. Membuatnya jadi lama menunggu malah akan membuatmu semakin bersalah. Kalau kau tak juga kesana, cepata atau lambat, kakakamu akan datang kemari”

Pernyataan Alfi benar tetapi aku masih bingung. Ya, Tuhanku! Berikan aku petunjuk! Aku merasa bersalah pada kakakku juga padamu. Maafkan hambamu ini, ya Allah!

SELESAI

Advertisements