Inilah Cara Membuat Lampion Imlek dari Angpao dengan Mudah!

lampion

Di Indonesia, perayaan tahun baru Imlek banyak disemarakkan di berbagai tempat sebagai salah satu tradisi masyarakat etnis peranakan Tionghoa. Salah satu aksesoris pendukung yang paling vital dalam perayaan tahunan adalah lampu lampion Imlek. Lentera merah  yang berpendar menjadi simbol kebahagiaan dan harapan baru di tahun yang akan datang.

Imlek yang akan datang pada tanggal 5 Februari 2019 tentu bakal dirayakan secara meriah. Sudahkah Anda mempersiapkan dekorasi yang tepat untuk menyambut tahun babi tanah ini?

Ya, Anda bisa membuat dekorasi Imlek sendiri di rumah dengan memanfaatkan bahan yang mudah didapatkan. Imlek identik dengan keberadaan angpao yang banyak diberikan oleh orang yang lebih tua pada anak-anak atau orang yang lebih muda.

Anda bisa memanfaatkan bahan angpao ini menjadi lampu lampion Imlek yang menarik. Ajak si kecil atau orang-orang tersayang memanfaatkan waktu jelang perayaan Imlek dengan kegiatan kreatif berikut ini!

Bahan lampu lampion Imlek

lampion dari angpao
via https://s4.bukalapak.com/img/9470558812/w-1000/Lampion_Handmade_Angpao_edisi_imlek.jpeg.webp
  • 12 lembar kertas angpao yang berukuran sama
  • Stapler
  • Benang merah sebagai pengikat hiasan atau lentera
  • Pernak pernik hiasan Imlek sesuai kebutuhan

Cara membuat lampu lampion Imlek dari bahan angpao sederhana

  1. Siapkan satu amplop kertas angpao bagian depan dan lipat setiap sudut membentuk segitiga pada bagian atas dan bawah.
  2. Ambil tiga amplop angpao yang lain dan lakukan tindakan yang sama. Jika sudah terbentuk dengan lipatan sempurna, gunakan stapler untuk menghubungkan setiap empat sudut angpao tersebut.
  3. Ulangi kembali langkah awal pembuatan lampu lampion Imlek tersebut pada empat angpao baru. Pastikan Anda berhati-hati saat melakukan staples pada setiap sudut angpao agar bagian tengah benar-benar tertutup. Usahakan hanya satu kali melakukan staples agar tidak terlalu sering melubangi bahan kertas angpao. Anda pasti tidak ingin desain lampion Imlek angpao ini kurang menarik dan mudah sekali robek saat digantung di ruang keluarga, bukan?
  4. Jika semua angpao sudah selesai dilakukan staples, Anda bisa memulai langkah penggabungan dua rangkaian. Lakukan teknik menggabung kertas angpao secara hati-hati agar tidak merusak permukaan kertas. Gabungkan setiap persamaan kertas dan lakukan staples pada masing-masing sudut secara presisi agar membentuk lentera.
  5. Jika kedua rangkaian sudah tergabung sempurna, ambil sehelai benang merah yang bisa digunakan sebagai pengikat lentera Imlek.
  6. Anda bisa menambahkan ide kreasi dengan menempelkan pernak-pernik Imlek sesuai keinginan. Pernak-pernik yang bisa digunakan antara lain tassel, rumbai, tempelan stiker, origami dan lain-lain.
  7. Pasang lampu lampion Imlek gantung dari bahan angpao ini di dalam ruangan seperti ruang tamu atau ruang keluarga.

Cara pembuatan lampu lampion di atas bisa Anda coba praktikkan di rumah. Model lampu lampion gantung begitu sederhana sehingga mudah diaplikasikan sendiri. Anda juga bisa mengkreasikan ide kreatif dengan bentuk lampion dari bahan angpao yang lebih bervariasi seperti kubah, buah durian, oval dan masih banyak bentuk kreatif lain. Pilihan warna yang digunakan juga beragam tergantung selera seperti merah, emas atau menggunakan warna lain.

Lampu lampion dari kertas angpao ini jauh lebih murah sebab bahan yang dibutuhkan mudah sekali didapatkan. Namun, Anda yang menginginkan kepraktisan dan desain produk lampu lampion yang lebih menarik, bisa membeli langsung di toko online terpercaya. Pilih desain lampu lampion Imlek pilihan Anda di loka market yang memiliki kredibilitas tinggi. Yuk, beli semua kebutuhan lampion Imlek Anda yang murah, berkualitas dan menjamin transaksi aman hanya di Bukalapak.

 

 

Cerpen: Renjana yang Ditinggalkan

Kesibukannya serta kesuksesannya membuat aku bangga.  Betapa tidak, aku telah menemani suamiku semenjak ia dan aku mulai kehidupan baru dalam sebuah rumah yang sederhana. Sebuah rumah kontrakan dengan hanya satu kamar tidur, ruang keluarga, dan ruang dapur yang sempit yang menyambung ke kamar mandi.

Ia bekerja sebagai seorang business development di sebuah perusahaan berkembang. Sedangkan aku baru satu tahun bekerja sebagai akuntan.

Pekerjaan kami memang terdengar keren.  Gaji kami juga cukup. Tapi kami tahu kalau kami belum bisa membeli rumah. Berniat mencicilnya juga bukan keputusan yang tepat.

Aku dan suamiku tahu kalau mencicil rumah hanya menyisakan masalah jika tidak diperhitungkan dengan benar.

Karena itu, kami berhemat. Kami lebih banyak menabung supaya kami bisa membli rumah dengan tunai.

Aku juga tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Pergi ke kantor dengan diantar oleh motor yang ia gunakan semenjak kuliah menjadi rutitnitas sehari-hari. Sering aku digoda oleh teman-teman untuk meminta suami membeli motor baru. Tapi aku tak mau. Aku pikir biarlah dia yang memutuskan kapan akan membeli motor baru.

Sebagai seorang business development, suamiku sebenarnya dituntut untuk memiliki kendaraan mobil. Tapi bukan sebuah keharusan. Suamiku leibh memilih menggunakan motor untuk melakukan pekerjaan. Lebih cepat dan efektif.

Setahun berlalu, suamiku pindah kerja. Masih dengan posisi yang sama tetapi di perusahaan besar. Aku masih bekerja sebagai akuntan tetapi kini kondisiku sedang hamil. Pendaptan kami meningkat tapi kami maish bertahan dengan kondisi yang sama dengan setahun lalu.

Dua tahun berlalu, aku baru berhenti bekerja dan lebih mengurus anakku. Aku pikir ini tidak masalah untuk pendapatanku karena suamiku naik jabatan di tempat ia bekerja. Kondisi ini membuat pendapatan kami meningkat.

Bahkan, bulan depan kami sudah akan punya rumah di sebuah pinggiran kota ibukota. Rumah  itu atas namaku, Mariana Pertiwi. Katanya, rumah itu adalah bukti cinta dia terhadapku. Dan bukti terimakasihnya karena telah mendampinginya sampai sesukses sekarang.
Yah, suamiku orang sukses. Suamiku juga orang sibuk. Kadang ia pergi pagi dan pulang malam. Aku tak pernah mempermasalahkannya. Hanya saja, aku ingin agar sesekali ia sekadar menyapa putrinya. Bermain dengan putrinya yang selalu aku temani. Yang selalu ingin mencoba memanggil papa dengan air mata yang melinang di pipinya.

Tapi, aku tak berani mengungkapkannya.

Pernah suatu ketika aku akan bilang padanya. Aku meminta dia agar jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan. Tapi aku urung.

Waktu itu, pukul 9 malam, kondisinya hujan besar. Hujan yang membuat putriku menangis. Apalagi kadang-kadang terdengar suara petir yang menggelagar menggangu telinga. Suamiku datang dengan wajah pucat dan kelelahan. Mukanya tampak tak menyiratkan senyum. Tampak seraut wajah yang tampan itu hilang ditelan dengan kerut wajah yang kekuning-kuningan.

Jangankan untuk mengatakan keinginan, betanya ada apa pun, aku tak sanggup.

Malam itu, akupun lebih banyak diam dan hanya membantu melepasnya. Ketika kami tidur pun, aku memunggunginya. Aku ingin cepat selesai dan melihat wajahnya yang berseri. Wajah yang ‘memabukanku’ ketika aku jatuh cinta padanya, wajah yang selalu ceria, ketika ia hanya naik kendaran roda dua. Wajah yang hilang yang lama kurindukan.

Dan wajah itu semakin hilang ketika aku menemukan sebuah surat di samping tidurku. Sebuah surat yang meneteskan air amtaku tak habisnya. Sebuah surat yang membuat aku….

 

Maaf, buat kamu khawatir tiap malam. Aku selalu ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dan tak pernah punya waktu untukmu dan putri kita. Tapi ini kulakukan untuk masa depan kita. Bukan hanya kita, tetapi keluarga kita.

Aku harus meningkatkan kerjaku karena perusahaan menjanjikan bonus besar. Aku tahu adikmu akan masuk Fakultas Kedokteran. Dan dia bukan adikmu saja tetapi adikku juga.

Ini hanya sementara, Bersabarlah!

Sebuah surat yang membuat aku terharu. Surat yang menyiratkan seorang suami yang bertanggungjawab. Tetapi ini juga surat yang membuat aku semakin rindu padanya.

 

 

“Halo, Kak” Suara wanita terdengar di sana.

“Yah, Ada apa?’

“Aku ingin menemuimu, Kakak. Ini penting!”

“Aku sedang sibuk kerja sekarang, Malam Jam 7 malam di kafe biasa aja.” jawabku tugas.

Aku langsung tutup teleponnya tanpa mendegar suaranya lagi.  Aku ingin fokus pada pekerjaanku. Tapi, nyatanya aku tak bisa. Suara yang tadi menelepon menggangu pekerjaanku. Suara yang tentu saja aku kenal. Dia adalah Anita, seorang perempuan yang kukenal lewat sebuah komunitas.

Aku pernah menjalin hubungan dengannya. Kami hanya beda 5 tahun. Jadi tidak masalah bagiku dan baginya untuk melanjutkan hubungan ini. Tapi, ternyata kami tak bisa melanjutkan hubungan ini.

 

“Kak, aku minta maaf” gadis cantik dengan rambut panjang terurai ini begitu gemetar suaranya. Ada beban di kata maaf yang ia lontarkan.

Sementara aku hanya diam saja. Aku mencoba tenang di hadapan dia. Meski sebenarnya aku tak tenang lantaran bentuk tubuh Anis yang tampak seperti biola dan dandanannya membuat perasaanku bergairah.

Sempat muncul kembali perasaan untuk kembali bersamanya. Tapi, aku gengsi. Aku sudah putuskan untuk tidak menjalin hubungan dengannya.

“Kak, aku tahu kaka diam. Kakak tak mau maafin aku kan?” Panggilan kakak yang membuatku tampak seperti kaka kandungnya dibandingkan mantannya itu membuat aku ingin membuka mata. Tapi, aku masih tak bisa. Bayang-bayang kenangan masa lalu, masih terlihat jelas, ketika orang tuanya  tak setuju denganku.

 

Yah, aku masih ingat. Ketika aku dan dia bersama-sama. Mengikat janji untuk terus mengarungi hidup. Mengabadikan hidup dalam berbagai momen. Sering foto saat traveling, saat makan, atau saat main wahana.

Kegemaran kami akan fotografi membuat kami semakin dekap. Apalagi, aku dan dia memang kenal di komunitas foto.

Tapi, aku tak bisa melanjutkan kisah indah ini. Orangtuanya lebih memilih untuk menikahkan dia dengan seorang pegawai bank. Orang tuanya tak mau  menjdodohkan aku yang waktu itu bekerja sebagai pekerja paruh waktu.

Maklum, belum banyak orang tua yang yakin penghasilan freelancer seperti aku yang hanya dapat job dari foto dan blog ini bisa membiayai hidup.

Ketika aku ditawari pekerjaan tetap di kantorku sekarang, aku masih tetap tidak bisa melamar Anita. Itu karena Anita sudah dijodohkan dengan orang lain.

Anita memohon padaku untuk membawanya kawin lari. Aku ingat saat itu.

 

“Kak, aku mohon, lebih baik kita kawin lari. Kita pergi ke rumah bibiku di Bandung. Aku akan minta dia menjadi saksi pernikahan kita” katany tersedu-sedu.

“Anita, itu bodoh!.  Realistislah sedikit!” kataku sedikit membentak.

“Apa dengan kawin lari akan nyelesain masalah? Gak Anita. Itu hanya nambah masalah. Dan aku tak mau menambah masalah”

“Kakak tidak mencintaiku kan? Kakak hanya ingin…”

“Anita…”

“Diam, Kak! Aku tahu Kakak hanya mencintai pekerjaan Kakak. Ketika Kakak punya peluang kerja dengan penghasilan tinggi. Kakak menolaknya. Kalau saja Kakak gak menolaknya waktu itu, ayah pasti menyetujui hubungan kita.”

“Anita, ini bukan soal berapa gaji yang kuinginkan”

“Diam Kak! Aku gak mau basa-basi. Lebih baik aku gak menemui kakak lagi’

“Itu lebih baik, Anita!”

Aku ingat saat itu, aku pergi meninggalkannya dalam keadaan menangis dan aku tak pernah menemuinya lagi.

Dan kini, Anita ada di hadapanku. Ia meminta maaf. Ia ingin kembali padaku.

“Anita, aku terima maaf kamu. Aku juga minta maaf. Tapi, bukannya aku tak mau kembali padamu. Tapi, aku tak bisa. Pulanglah! Lebih baik nikahi pilihan ayahmu yang telah kamu tundah sampai 5 tahun ini.

“Aku tak bisa melupakanmu, Kak”

“Aku tahu, tapi hidup punya resikonya masing-masing. Piilihan itu akan selalu sulit tetapi, selalu ada keputusan baik meski kamu memilih jalan yang terburuk”

Malam itu, hujan semakin lebat saja. Derainya begitu menusuk, tapi derai air mata di pipi Anita, lebih dari segalanya.

Dan tiba-tiba, aku mendapati panggilan tak terjawa dari istriku ketika aku cek handphoneku.

*

Kadang aku tidak pernah mengerti pikiran kakak iparku. Kadang ia menjadi penyayang pada kakakku, kadang ia terlihat tak mempedulikan kakakku.  Di saat seperti itu, aku selalu marah padanya tapi itu hanya dalam hati. Apalagi, kakakku kadang sering menangis ketika ia rindu kakak iparku yang selalu sibuk melulu.

Aku tak pernah dekat dengan kakak iparku sebenarnya. Menyapanya saja juga buat aku segan. Tapi, apapun perilakunya, yang aku tak tahu dia tak akan membiarkan orang-orang yang dicintainya tidak bahagia.

Seperti sekarang, ketika aku menikah dengan orang yang kucintai, seorang wartawan yang mencitaiku dengan tulus. Kakak iparku lah yang hampir membiayai pernikahan ini. Bukan hanya itu, sekitar 8 tahun lalu, ketika aku kuliah, dialah yang membiayaku.

Aku pikir dia tak mau melihat orang-orang terdekatnya kekurangan. Itulah kenapa ia memilih untuk bekerja keras dan membuang keinginan terbesar dan renjananya.

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

RINDU KEKASIH

Ini waktu tak ada yang bertamu cinta

Ketika burung hantu tak berseru

Sedang angin rindu suaranya

Semua malah diam

Bergeming batu di sungai deras

 

“Akankah selembut dahulu? Seperti ketika

kau membiarkan aku berlayar di lautan bibirmu”

 

Tidak ada harapan di genggamanku

Hilang, hening yang tak kukira…

 

 

2009

 

PERCAKAPAN HATI

RUANG KULIAH B201

Langit mengerlipkan bintangnya malam ini pada matamu yang bening dan suci.

Dan sungguh aku adalah bumi yang gelap dan laknat.

Semua kembali bercahaya,

bukan karena matahari, bulan ataupun bintang

Tapi karena cahaya hatimu.

“Mengapa kau menulis puisi ini?”

“Entahlah, Pak. Saya begitu saja menulisnya! Ada yang salah dengan saya, Pak?”

“Tidak! Bapak hanya ingin tahu saja!”
“Lalu?”

“Begini, bapak belum bisa memberimu nasihat atau kesimpulan secepat yang kamu kira. Bapak tidak terlalu ahli dalam psikologi, hanya tahu saja”

Continue reading “PERCAKAPAN HATI”

LANGIT KOTAKU HITAM

Langit kotaku hitam
Terbunuh para siluman
Yang datang menyusup di kala kita tidur nyenyak….

Langit kotaku hitam
Tidak ada pahlawan
Sekadar mencari alasan pidato di depan

Kita sudah tidak saling mengenal
Karena langit kotaku hitam
Kita lupa siapa yang kemarin memelihara rumput
Yang sudah tidak bisa bergoyang
Karena tidak ada yang mau bertanya lagi padanya……..

2009 Continue reading “LANGIT KOTAKU HITAM”

TENTANG CINTA INDONESIA

Jika mencintai Indonesia
maka cintailah seperti kau menyayangi pasanganmu,
menerima kekurangan dan kelebihan
menerima positif dan negatif

Maka jika kautemukan ada yang kautak suka
tak usah kau sesali dan caci maki

Apabila kaumencintai Indonesia
dengan segala hal harus ideal
maka kautak menyayangi pasanganmu
ketika kautahu ia mengorok saat tidur
atau ketika kau tahu pasanganmu punya cacat tubuh
yang saat bermesra remaja dulu tak kau ketahui

Maka cintailah indonesia dengan seimbang
dengan merahnya dan dengan putihnya