Tulisan ini berisi masukan dan saran untuk penyelenggara acara Gathering Pegiat Social Media Mizan dan sedikit catatan untuk narasumber. Tulisan ini cukup panjang, jadi akan memakan waktu membacanya. Catatan pembuka seebenarnya bisa diabaikan. Tetapi karena ada kesinambungan, mohon dibaca. 

Catatan: Pembuka

Ceritanya, tanggal 6 Februari 2015, saya ikut acara diskusi yang diadakan Mizan. Yang membuat saya tertarik ikut acara ini, yap dari judulnya, yakni tentang media sosial. Mizan mengundang narasumber pegiat media sosial, yakni Nukman Lutfhie. Sebagai orang yang aktif di media sosial, saya tentu tertarik dengan acara ini. Pasti bakal seru dan bisa mendapatkan hal-hal baru tentang sesuatu yang saya minati.

Acara ini dimulai Pukul 13.00 WIB. Tapi hari itu hujan, cukup besar. Saya tidak bisa datang tepat waktu karena hujan yang besar ini. Baru saat hujan mulai sedikit reda, saya berangkat. Sampai di tempat, kira-kira medekati Pukul 15.00 wib, acara baru dimulai. Saat itu, acara berlangsung tentang diskusi buku dengan salah satu editor senior. Saya lupa namanya karena toh saya tidak mengikutinya dari awal.

Saya pikir, acara tentang media sosial sudah berlangsung tetapi ternyata pembahasan media sosial belum berlangsung. Segmen tersebut baru dimulai pukul 16.00 WIB. Saya istirahat sebentar sebelum pergantian ke segmen berikutnya. Makanan dan minuman dari panitia sudah cukup membuat perut terisi. Terimakasih panita. Eh, sebentar, saya harus bercerita tentang acara ini, yah. Hmm catatan pembukannya cukup sampai disini yah. Langsung aja yak ke catatan pentingnya tentang acara yang diadakan Mizan ini.

Diskusi Buku yang Terlewatkan
Diskusi Buku yang Terlewatkan

Catatan: Acara

Kegiatan diskusi ini sebenarnya adalah diskusi kedua dari Mizan yang saya ikuti. Sebelumnya, saya pernah mengikuti diskusi dari Mizan yang berlangsung di salah satu rumah makan di Kota Bandung (nanti saya akan coba ceritakan). Waktu itu, acara diskusinya tentang komik dengan konsep diskusi pada umumnya yang meskipun terkesan resmi dengan adanyakursi duduk tetapi pembicaraan tetap santai dan menyenangkan.

Kali ini, Mizan mengadakan diskusi dengan konsep “sharing”. Diskusi pertama adalah sharing tentang perbukuan, yang saya tidak diikuti dari awal. Diskusi kedua adalah tengan media sosial. Konsep acaranya kali ini adalah lesehan. Cukup santai dan secara keseluruhan acaranya lebih bisa disebut sebagai ngobrol bareng. Tapi saya tidak bisa mengatakan dalam hal ini jelek atau bagus. Hmm, gimana yah, mungkin saya tidak tahu tentang standar sebuah diskusi itu akan menarik atau tidak. Tetapi, menurut saya, diskusi yang seru dan menarik adalah yang melibatkan semua elemen didalamnya, baik itu MC, narasumber, dan peserta diskusi.

Sebelum saya bicara tentang acaranya, saya jelaskan sedikit tentang Nukman Lutfhie. Beliau adalah lulusan Teknik Nuklir dari Universitas Gajah Mada. Latar pendidikan beliau ternyata tidak nyambung dengan dunia yang beliau geluti saat ini. Beliau saat ini bergerak dalam dunia korporat visual consulting. pekerjaan ini sudah ia lakoni sejak tahun 2003 lalu. Beliau juga mendirikan beberapa situs dan pernah membesarkan koran semacam SWA dan koran Bisnis Indonesia. Blog pribadinya, bisa ddikunjungi di http://www.sudutpandang.com. Jika mau lihat celotehan beliau di Twiiter, bisa follow akunnya @nukman. Akun Twitter tersebut memiliki jumlah followers lebih dari 100ribu. Sebuah pencapaian yang luar biasa tentunya.

Bapak Nukman Lutfhie
Bapak Nukman Lutfhie

Dalam acara tersebut, Nukman Lutfhie menjelaskan tentang pentingnya media sosial bukan hanya untuk komunikasi saja. Media sosial bisa dimanfaatkan untuk hal lain, terutama dalam melakukan branding. Menurut beliau, membangun branding dengan media sosial perlu keja keras dan usaha lebih. Branding bisa dilakukan dengan cara mengoptimalkan pada 3C yakni Community, Content, dan Conversation. Community berhubungan dengan interaksi dan target dari branding. Content berkaitan dengan isi materi yang ingin dibagikan. Dalam melakukan ini, sebaiknya Content setidaknya ada 30% yang berubungan dengan apa yang ingin dibangun. Terakhir, Conversation berkaitan erat dengan kekonsistenan agar tetap terus berinteraksi dengan target atau audience.  Dari pemaparan beliau, jelas bahwa jika ingin membangung branding, kita harus konsisten. Ini juga jadi tamparan buat saya yang “kurang sukses” membangun branding karena saya termasuk blogger yang menulis apa saja, bukan mengkhususkan diri (meskipun cenderung techno blogger) . Intinya, branding bisa dibangun jika kita sering membicaraka satu hal bidang tertentu lewat media sosial, dalam hal ini termasuk blog.

Catatan: Saran

Setidaknya, ada lima hal yang bisa saya catat dari acara kemarin. Saya tidak mau banyak berbicara tentanga apa yang sudah disampaikan pada diskusi. Saya hanya menjelaskan intinya, pada bagian catatan penting. Saya kira hal-hal teknis tentang acara ini bisa lebih saya ungkapkan. Mohon maaf sebelumnya, jika pada bagian ini ada pihak yang tersinggung. Ini beberapa catatan yang berasal dari pengalaman saya ketika mengikuti diskusi, jadi bukan semata-mata menulis tanpa dasar. Untuk lebih memudahkan, saya akan uraiakan dalam lima point.

1. Konsep Diskusi Lesehan

Apa yang membuat sebuah acara atau dikusi mengusung tema lesehan? Menurut saya konsep lesehan itu tujuannya diskusi agar diskusi menjadi lebih santai. Para peserta tidak terkesan kaku dan lebih akrab. Obrolan juga jadi lebih lumer. Untuk acara ini, pihak Mizan sudah melakukan hal yang baik, tetapi hanya sampai sebatas santai. Acaranya memang santai. Tidak ada yang terlalu tegang ketika mengikuti acara ini. Tetapi acara ini tidak lumer. Santai, tapi tidak terlalu lepas. Apa mungkin karena peserta pada jaim, hmm bisa jadi juga sih.

Diskusi dengan Format Lesehan
Diskusi dengan Format Lesehan

2. Pembawa Acara

Pembawa acaranya yang cantik itu sebenarnya sudah membawa acara dengan baik. Dengan cara bicara dan penekanan nada yang enak didengar serta adanya komunikasi dua arah dengan penonton membuat acaranya memang lebih terasa dekat. Cara dia membawakan kuis juga cukup menarik. Apalagi dia memberikan hadiah kepada orang dengan syarat tertentu, semisal dia menanyakan siapa orang yang mendapat panggilan tak terjawab terbanyak. (Oh yah MC-nya sama yah dengan diskusi Mizan waktu ngbrolin komi). Ok, abaikan. Good Job, Teh :-).

 

Tidak Sempat Foto MC--nya
Tidak Sempat Foto MC–nya

3. Fokuskan pada Satu Tema

Sebenarnya, diskusi ini bisa dilaksanakan dua hari. Saya pikir diskusi buku bisa dilangsungkan secara terpisah dengan media sosial. Bukan apa-apa, judul dari acara ini adalah Gathering Pegiat Social Media Mizan. Itu artinya, yang dibahas adalah segala hal yang berkaitan dengan media sosial. Memasukan diskusi dengan editor buku pada acara ini membuat judulnya jadi timpang. Apalagi kalau bicara buku, pembahasannya pasti lebih banyak. Saya pikir tadinya yang bicara sebelum Nukman Lutfhie adalah orang dari media sosial-nya Mizan. Atau setidaknya dari Humas atau apapun itu. Bisa kan, pembahasanya meliputi tentang menjadi admin media sosial, meningkatkan engagement. Atau hal-hal yang berkaitan dengan itu. Tapi mungkin ini salah satu ekspektasi saya kali yah. Lagipula saya tidak memperhatikan bakalan ada diskusi buku. Kalau memang bakal ada tema yang berbeda, judul acaranya bisa lebih diuniversalkan. Atau mungkin aku juga yang salah tangkap kali yah.

4. Praktik Materi

Sebelum mengikuti acara ini, saya sedikit berekspektasi tinggi terhadap acara ini. Setidaknya, saya bisa mendapatkan pengetahuan tentang media sosial dan berbagi hal yang berkaitan langsung dengan narasumbernya. Tetapi justru itu jadi bumerang buat saya. Saya malah tidak jadi menikmatinya. Oke, beberapa materi yang baru bisa saya dapatkan, semisal melakukan branding terhadap diri sendiri, konsisten terhadap apa yang ingin dituju, serta tentang konsep 3C. Saya sebenarnya ingin lebih dari itu. Karena ini acara terkait dengan media sosial dan peserta uumnya membawa gadget, akan sangat menarik jika kemudian langsung praktik apa yang disampaikan. Minimal, sesama peserta diskusi. Misalnya dengan cara membangung community antar peserta degan saling follow. Narasumber kemudian bisa memberikan tema tertentu dan kita memberi opini terhadap tema itu. Kemudian peserta diskusi bebas berpendapat, maka terjadilah yang namanya content dan conversation. Percayalah, mendapatkan materi, kemudian pulang ke rumah, berapa orang yang mempraktikannya. Lagi-lagi saya kritik acaranya. Tapi saya juga sadar, bahwa acara ini terbatas waktu. Yah, waktu pulalah yang membuat semua hal kadang tidak terwujud dengan baik.

Posisinya saya di belakang Narasumber
Posisinya saya di belakang Narasumber

5. Tentang Narasumber

Ini yang agak berat saya utarakan, tapi bolehkan yah Pak, saya keluarkan unek-unek. Pak Nukman Lutfhie, sebagai narasumber membawakan materi dengan baik. Beberapa orang juga terbawa suasana dan cukup masuk ke dalam materi yang dibawakan. Bapak juga sesekali mengeluarkan guyonan yang kemudian diikuti tawa oleh peserta diskusi. Tapi, jujur Pak, guyonan bapak tidak masuk buat saya. Sesekali saya sih tersenyum tetapi saya tidak benar-benar menikmati diskusi. Bisa jadi hal ini karena posisi duduk saya. Perlu diketahui bahwa posisi duduk saya ada di ujung. Posisi ini membuat saya sedikit berada di belakang narasumber. Posisi lesehan dengan bentuk lingkaran memang sebenarnya cukup baik tetapi seharusnya posisi ini juga harus bisa diatur sedemikian rupa agar pembicaraan bisa menjadi fokus. Saya yang berada pada posisi kurang nyaman ini jadi sedikit kurang fokus terhadap materi. Sebenarnya hal ini bisa diakali juga oleh Narasumber dengan mencoba berinteraksi dengan peserta diskusi dari berbagai posisi. Yang saya perhatikan, Bapak lebih banyak berinteraksi dengan peserta yang ada di posisi depan. Sesekali bapak memang mencoba untuk berinteraksi dengan peserta di posisi lainnya, tapi tidak menyeluruh.

Hal lalainnya adalah bahwa Bapak kadang-kadang berbicara terlalu cepat. Akibatnya artikulasi jadi  kurang jelas. Atau mungkin cuman saya saja yang merasakan hal itu. Maaf sebelumnya Pak, tapi sebagai seorang tokoh atau pegiat yang sering berbicara tentang media sosial, dunia digital, atau hal lainnya dalam berbagai forum, Bapak tentu bisa lebih baik dari ini. Saya tahu sih situasinya Bapak sedang terburu-buru karena setelaha cara ini Bapak Nukman ada jadwal lagi. Mungkin karena alasan tersebut yang mempengaruhi komunikasi Bapak ketika menyampaikan materi.

Catatan: Penutup

Catatan penutup ini lebih berupa catatan salam penutup kepada pembaca blog ini. Tapi sebelumnya, saya nyatakan bahwa apa yang saya utarakan lebih ke arah suasana yang alami ketika saya mengikuti diskusi. Adapun, jika ada beberapa saran itu semata-mata karena saya ingin acara seperti ini bisa lebih baik. Bisa jadi, apa yang saya rasakan berbeda dengan peserta lain.

Advertisements