Ingat betul ketika tulisan kritik film saya dinilai sebagai “tulisan kritik yang sama ala-ala blogger pada umumnya”. Yang menilai adalah teman dekat yang kebetulan seorang wartawan yang sering mengulas film dengan baik.

Saya berterimakasih padanya karena dia mau membaca ulasan film saya di blog ini.

Saya juga tidak mempermasalahkan dengan komentar dia. Karena memang saya masih perlu banyak belajar soal menilai sebuah film. Pun karena saya seorang blogger dan kebetulan dia adalah seorang jurnalis membuat saya juga memakluminya.
Saya mengakuti bahwa tulisan seorang blogger dan seorang wartawan tentu ada bedanya. Perbedaan paling mendasar adalah soal kualitas. Saya cukup meyakini kalau tulisan saya (sebagai blogger) masih jauh dari standar dibandingkan para wartawan.

Apalagi dalam menulis reportase yang memang merupakan salah satu kerja jurnalistik. Saya percaya para pekerja jurnalistik bisa menuliskan reportasi dengan baik dibandingkan saya. Toh, memang mereka sering melakukan itu.

Tapi apa yang saya percayai ternyata salah.

Syaifudin Sayuti yang meyakinkan saya tentang hal inii saat diskusi kelas Blogger, 18 Desember 2015 di Rumah Kudo Bandung, Jalan Setiabudi Nomor 112.

Pada acara yang digagas oleh e-Commerce Kudo tersebut, Pak Sayuti menjelaskan bahwa blogger juga bisa membuat reportase yang tidak kalah hebat dengan para pekerja jurnalistik.

Yang paling penting adalah bahwa para blogger dalam membuat reportase harus tetap mengacu pada empat pondasi penting, yakni laporan, fakta, aktual, dan juga akurat.

Menurut beliau memang reportase jurnaliatik berbeda dengan reportase ala blogger. Tapi, baik reportase jurnaliatik maupun reportase ala blogger memiliki keempat pondasi tersebut.

Screenshot_19
Bagaimana sebenarnya keempat pondasi ini? Berikut penejelasannya.

1. Laporan

Reportase itu adalah sebuah laporan. Dan dalam laporan tersebut, harus mengandung 5W+1H yang memang merupakan formula lama tetapi harus selalu ada dalam setiap kerja jurnalisitik, termasuk reportase.

Itu berarfti, ketika saya menulis reportase (sebagai blogger), saya tidak boleh mengacuhkan 5W+1H ini. Yang dimaksud 5W+1H adalah What, When, Who, Where, Why, dan How.

Sebuah formula yang sudah diajarkan sejak bangku sekolah dulu.

2. Fakta

Sebuah reportase tidak bisa dibuat secara imajinatif. Artinya, tulisan reportase tidak bisa mengandung sesuatu yang fiktif. Jika ini kondisinya, maka reportase tersebut bukalan reportase melainkan sebuah fiksi.
Reportase yang baik itu bersifat nyata. Artinya, semua hal yang ditulis memang benar terjadi dan tidak mengarang-ngarang.

Contohnya pada awal paragraf tulisan ini, saya mengaitkan dengan pernyataan teman saya yang memang benar terjadi. Tidak dibuat-buat.
Inilah yang patut diperhatikan oleh para blogger. Karena bisa saja (atau mungkin sudah ada) blogger yang membuat ilustrasi atau kejadian yang sebenarnya tidak terjadi tetapi dibuat-buat seolah terjadi agar menyambung dengan tulisan reportase yang dibuat.

3. Aktual

Reportase tidak hanya bersifat fakta tetapi juga harus aktual. Atau aktual dalam hal ini adalah reportase yang disajikan adalah baru saja terjadi.

Jangan sampai sebuah reportase dibuat lama sekali. Misal, seorang blogger menghadiri peluncuran sebuah produk pada minggu pertama. Tapi, ia baru membuat reportase pada akhir minggu keempat.

Nah, jika menilik kejadian tersebut, maka reportase yang disajikan blogger tersebut tidak aktual.

Ini yagn penting, sekaligus menjadi pelajaran penting buat saya yang kadang sering menuliskan reportase lama sekali.

4. Akurat (Ada di lokasi)

Unsur keempat ini adalah pelengkap tetapi juga penting dalam reportase. Sebuah reportase yang baik harus benar-benar akurat. Keakuratan tersebut bisa dibuktikan dengan cara bahwa si blogger tersebut benar-benar ada lokasi atau tempat kejadian.
Keempat poin inilah yang sangat penting dimiliki dalam kerja “reportase ala blogger”. Blogger tidak perlu takut kualitas tulisannya lebih jelek dari para pekerja jurnalisti (termasuk dalam reportase juga).

Menurut beliau, ada yang membuat reportase blogger menjadi unik, yakni soal pengemasan 5W+1H yang lebih luwes dibandingkan para pekerjan jurnalistik. Selain itu, blogger juga tidak terikat dengan “kekakuan” ala tulisan reportase para pekerja jurnalistik yang memang sudah memiliki pakem tersendiri.
Dari kejadian ini, tentu saja saya jadi paham dan lebih percaya diri dalam menulis di blog (termasuk reportase). Saya tidak perlu takut kalah dengan para pekerja jurnalistik.

Advertisements