11221784_10205821153380537_7325486354046260107_n
Lygia Nostalina, sosok ibu yang selalu senyum dan semangat

 

Perempuan berkerudung itu selalu tampil aktif. Belakangan, ia sibuk dalam sebuah proyek berbasis berbasis sosial entrepreneur. Proyek tersebut melibatkan banyak pihak, termasuk dukungan dari  seorang artis, Wulan Guritno.

Proyek tersebut dinamakan Uplek, sebuah perusahaan rintisan yang fokus membantu pengembangan UKM di kota Bandung khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Lygia bersama kawan-kawan Uplek berfoto bersama Wulan Guritno
Lygia bersama kawan-kawan Uplek berfoto bersama Wulan Guritno

Proyek tersebut tidak  mengejar finansial yang berarti bukanlah proyek binis dengan potensi penghasilan tinggi.

Proyek itu  bertujuan mulia yang dilakukan  perempuan berkerudung itu. Seorang perempuan, seorang ibu bernama Lygia Nostalina.

Siapa Lygia Nostalina?

Sosok Lygia ini pada awalnya saya kenal sebagai seorang penulis.

Bahkan, waktu saya mengenalnya lewat dunia maya, saya menilainya tak lebih dari sekadar penulis narsis dan hanya ingin mencari eksis. Maklum, statusnya waktu itu lebih banyak bicara soal kepenulisan.

Tapi seperti kata pepatah yang saya ubah, tak kenal maka hanya punya anggapan.

Sosok Lygia yang katanya mencintai hujan itu ternyata bukan sekadar penulis biasa. Lygia ini ternyata lebih dari sekadar “penulis”. Tanpa bermaksud menyinggung profesi penulis, lygia adalah sosok ibu yang seba bisa.

Ia penulis, ia blogger, ia inisiator, dan seorang socialpreuneur. Tapi, di atas itu semua ia tetaplah ibu yang mengayomi ketiga anaknya dengan kedua tangan terbukanya saja.
Bagaimana ia menjalani semua hal itu? Saya tak bisa membayangkannya sampai kemudian saya harus tahu sendiri dan menanyakan sendiri tentang dirinya, kehidupan pribadi, prestasi, dan hujan yang mungkin sejak lahir sangat ia cintai.

 

Lygia Sebagai Penulis

Anggapan saya kalau Lygia hanya penulis yang mencari eksis ternyata salah. Dia memang seorang penulis dengan jumlah karya yang bahkan saya sendiri belum mampu mencapainya.
A Cup of Tea for Single Mom dan A Cup of Tea for Complicated Relationship adalah dua buku yang memuat karya dari Ibu yang lahir di Jakarta, 18 September 1977 ini. Dua buku itu diterbikatn oleh Stiletto Books pada 2011 yang banyak bercerita soal motivasi.

Tema bukunya mirip seperti buku chicken soup (yang saya anggap pada awalnya sebagai buku tentang sup ayam) yang menyajikan kisah isnpiratif dari beberapa penulis, termasuk Lygia.

Buku-buku lainnya betema sama lantas muncul belakangan. Sebut saja Storycake for Ramadhan yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, 2011)

Satu buku karya sendiri buatan Ibu Lygia ini adalah Hot Chocolate for Broken Heart (Cahaya Atma Pustaka, 2012).

Buku solo karya Lygia, sayangnya stocknya habis di salah satu toko buku online
Buku solo karya Lygia, sayangnya stocknya habis di salah satu toko buku online

 

Cuman segitu?

Tentu saja tidak. Lygia juga berkontribusi untuk beberapa buku yang menarik seperti Emak Gokil, Seribu Wajah Kupu-Kupu, Kumpulan Kisah Nyata, For The Love of Mom, dan Storycake for Amazing Mom yang diterbitkan tahun 2011.

 

 

Lygia Sebagai Blogger

 

Tidak hanya menulis buku, Lygia juga dikenal sebagai seorang narablog. Atau bahasa populernya, Blogger.

Bahkan sebelum menerbitkan buku, Lygia sudah lebih dulu menulis di blog yakni pada tahun 2007 dengan platform multiply yang sekarang sudah almarhum itu.

Tapi, kini ia punya beberapa blog yang cukup aktif ia isi. Blognya antara lain
http://www.pecandukuliner.com
http://www.lygiapecanduhujan.com
http://www.singlemomstories.com

Ia juga aktif di Kompasiana dan bisa membaca tulisan-tulisannya pada www.kompasiana.com/lygiapecanduhujan.

Lewat ngeblog ini, Lygia kerap mengisi pelatihan, diskusi atau workshop uuntuk  parapelajar dan umum.

Sosok Lygia sebagai blogger inilah yang membuat saya lebih banyak mengenal dia lebih dekat dibandingkan waktu saya hanya melihat dia lewat status-statusnya.

Oh yah, Lygia ini cukup sering memang lomba dan undian jika ada event Blogger. Ia sering memenangkan lomba Live Tweet. Bahkan, baru-baru ini ia mendapatkan undian televisi 40 inci dari salah satu brand.

Menang undian ini bukanlah keberuntungan tetapi rejeki yang dititipkan Tuhan dengan cara lain
Menang undian ini bukanlah keberuntungan tetapi rejeki yang dititipkan Tuhan dengan cara lain

Beruntung? Hmm saya yakin kemenangan itu bukan soal keberuntungan tetapi soal kekonsistenan dalam menjalankan profesi, termasuk ngeblog. Adapun berkah yang ia dapatkan tak lain dari rejeki yang Tuhan berikan padanya dengan cara yang lain.

 

Lygia Sebagai Inisiator

Peran Lygia sebagai inisiator tak hanya baru-baru ini yakni mendirikan sebuah media yang fokus pada pengembangan UKM. Jauh sebelum itu, Lygia telah menginisiasi beberapa kegiatan seperti membuat komunitas-komunitas penting.

Aktif dalam komunitas ini pada awalnya dimulai saat ia kuliah di Fakultas Hukum UI. Ia masuk tahun 1996 dan sudah mulai aktif dalam kegiatan komunitas. Kegiatan ini pun terus berlanjut meski ia sudah menikah dan punya tiga anak.

Keterlibatan Lygia dalam komunitas dapat dilihat dari foto-foto berikut ini.


12463566_10206651561260215_738143800_n12431277_10206651561900231_1115716086_n12431283_10206651561780228_1114151446_n

 

 

Contohnya, pada 2011 saat ia merintis aksi Pasukan Pembela Kebersihan. Aksi ini adalah aksi yang fokus pada kebersihan lingkungan di sekitar, terutama di keluarga. Salah satu aksi ini adalah mengampanyekan membawa kantong kresek sebagai tempat sampah agar tak buang sampah sembarangan.

Ia juga aktif dalam kegiatan sosial memberikan sumbangan buku seperti pada gambar berikut ini

12434133_10206651564140287_1759091043_n

12442844_10206651562740252_69718481_n

Sebuah aksi sederhana yang memberi manfaat dan berguna.

 

Belakangan Lygia aktif membantu orang yang membutuhkan. Ia membangun gerakan di media sosial untuk membantu satu keluarga yang memang sangat membutuhkan seperti pada gambar berikut ini.

Screenshot_14

Menariknya, tanpa perlu membuat kampanye di situs crowdfounding (urun dana), Lygia berhasil menggerakan banyak orang untuk turut membantu keluarga tersebut.

Selain itu, Lygia juga punya peranan dalam membantu urusan  perempuan dan ibu-ibu yang terlibat dalam masalah perceraian. Ia seringkali memberitahu motivasi  dan sering diminta menjadi pendamping nonformil untuk urusan tersebut.

Karena inilah, Lygia sering membuat status motivasi tentang kehidupan. Motivasi itu pun bukan sekadar bualan karena Lygia juga pernah mengalami pahitnya kehidupan.

Contoh kalimat motivasi yang ia buat sebagai berikut

Screenshot_12

Lygia Sebagai Seorang Socialpreuneur

Sudah saya sebut jika Lygia ini adalah seorang socialpreuneur. Bagi yng belum tahu, Socialpreuneur itu adalah seorang penggagas yang menciptakan sebuah peluang bisnis dengan fokus bukan hanya orientasi uang tetapi juga manfaat dan dampak posifit bagi masyarakat.

Dan hal tersebut ditunjukan oleh Lygia lewat aksi nyatanya dalam membangun pesantren yatim dhuafa di Cililin, Kabupaten Bandung.


12442876_10206651564820304_106701210_n

 

Kini, perannya sebagao socialpreuneur akan diuji lebih lanjut lewat perusahaan rintisannya, Uplek, yang memanf fokus pada pengembangan dan pembibingan calon-calon pengusaha UKM mulai dari nol.

 

Lygia Sebagai Seorang Ibu

Peran-peran Lygia yang banyak itu tidak melupakan perannya sebagai ibu dari tiga anak. Bahkan, ia mengurusi ketiga anaknya ini sendirian. Yah, Lygia adalah seorang single mother.

Suaminya meninggalkan dia. Tidak hanya sekali  tetapi dua kali.

Ia menikah tahun 2000 dan dikarunia dua anak. Sayangnya, usia pernikahannya hanya bertahan selama 6 tahun. Ia bercerai dengan suaminya. Dan pahitnya, perceraian ini karena masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Ia sempat cerita kepada saya kalau ia pernah jadi korban KDRT sampai babak belur.

Pernyataan ini tentu membuat saya kaget, mengingat saya sering bertemu dengan wajah semangat dan selalu tersenyum yang bahkan tak terbayang “aura duka” di sekeliling tubuhnya.

Anak ketiga Lygia lahir dari suami kedua yang ia nikahi pada 2011. Malangnya, suami keduanya meninggalkannya setahun kemudian. Suaminya mengalami  kecelakaan sampai kemudian suaminya dipanggil Tuhan.

Kiah kedua ini membuat saya terharu. Saya pun mulai berpikir kalau masalah yang saya alami, bahkan yang sulit sekalipun, tak ada apa-apanya dibandingkan kisah seorang Lygia Nostalina.

Saya harus banyak belajar kepada Lygia yang murah senyum dan semangat itu.  Menjalani masalah yang bertubi-tubi, tidak membuat rapuh semangat hidupnya.

Itulah Lygia, sosok single mother yang terus bekerja dan membiayai ketiga anaknya meski hanya dengan aktivitas dia sebagai penulis, blogger, maupun sebagai seorang socialpreuneur.

Advertisements