Katanya, masyarakat modern atau generasi kekinian saat ini sangat bergantung pada gawai yang mereka bawa kemana-mana. Bahkan ada anekdot (yang memang terjadi dilingkungan saya pribadi), bahwa tidak apa-apa ketinggalan uang asalkan tidak ketinggalan ponsel pintar.

Anekdot yang kemudian memunculkan istilah bernama Nomophobia atau Nomofobia, yakni ketakutan ketika tidak memegang ponsel pintar.

Sindrom ini bukan sekadar istilah semata karena berdasarkan penelitian yang diterbitkan SecureEnvoy.com bahwa di Inggris tahun 2012, jumlah orang yang mengalami Nomofobia naik sampai 66%. Tentu saja angkanya terus meningkat dan tidak hanya terjadi di negara yang baru saja keluar dari Uni Eropa itu.

Di Indonesia, meskipun tidak ada penelitian resmi, orang-orang yang mengalami Nomofobia bisa dibilang banyak. Mereka bisa ada di sekitar kita, teman kantor kita, atau sanak saudara kita yang jarang kita sapa karena hanya bertemu saat lebaran saja.

Orang-orang yang tadi itu condong memilih ketinggalan barang atau uang dibandingkan ponsel pintar. Toh mereka mungkin berpikir berpergian sonder uang tak masalah selama smartphone dalam genggaman.

Tidak akan ada keresehan tak punya “kertas berharga” di dompet. Si nyonya akan telepon suaminya untuk transfer uang. Si tuan besar tinggal memakai kartu kredit. Kalau dompetnya ketinggalan, mamang-mamang ojek online yang belakangan penuh drama itu siap membantu.

Anaknya, sang gadis perawan yang sedang mekar dan menggemaskan selalu ingat ponselnya untuk selfie. Sekalipun ia lupa mengambil uang atau barang di rumah saat ia dan temen-temen gemesnya akan travelling, ia tak takut dan panik.

Ada supir, eh maksud saya pacarnya yang akan kembali ke rumah si gadis mengambilkan uang atau barang setelah merengek manja . Sekalipun si pacar sedang asyik main games bareng teman-temannya.

Bayangkan jika yang ketinggalan adalah ponsel pintar itu sendiri. Mereka akan kepanikan. Mau telepon tidak ada wartel. Kalaupun ada, nomor siapa yang diingat. Itulah kenapa saat ini memang orang-orang lebih memilih terikat dengan ponsel dibandingkan barang lain.

Tapi kalau dipikir-pikir, orang-orang itu (atau mungkin penulis sendiri) sebenarnya bukan ketergantungan pada smartphone tetapi dua hal yang mendukung smartphone itu bisa sesuai dengan fungsinya. Pertama adalah baterai, Kedua adalah pulsa.

Smartphone yang memiliki baterai habis, tentu tidak ada gunanya. Smartphone yang tak ada pulsa untuk membeli paket data mungkin masih ada gunanya. Untuk main games atau selfie cantik. Tapi bukankah kurang afdol kalau hasil selfienya tidak update di Instagram?. Apalagi kalau para followers itu menantikan kamu (iyah kamu) memakai baju hasil endorse.

Berkenalan dengan ASUS ZenPower Ultra

Saya sebenarnya bukan hanya membicarakan orang lain yang ketergantungan pada smartphone. Narasi tadi pun membicarakan saya sendiri sebagai bagian dari masyarakat kekinian yang bergantung dengan smartphone, ehmm maksud saya baterai.

Beberapa kali terjadi dalam setiap kesempatan penting yang bahkan mungkin tidak akan terjadi lagi. Semisal ketika berkesempatan meliput sebuah acara, ada momen-momen penting yang tak terpotret, hanya karena masalah baterai yang persennya hanya tinggal hitungan jari saja. Di lain kesempatan, saya harus rela tidak mendokumentasikan perjalanan saya dan istri di sebuah tempat wisata yang baru. Diperparah juga lantaran baterai ponsel istri saya pun sudah menanjakan meteran sewarna merah darah. Seolah-olah ponsel itu memang kurang darah.

Dari beberapa kejadian itu, terpikir keputusan untuk memiliki sebuah powerbank. Sebuah perangkat listrik yang menyimpan “tenaga” untuk ponsel dan bisa dibawa kemana-mana. Sebuah perangkat pengganti ketika ponsel butuh daya tenaga tetapi tidak ada saluran listrik.

Dipikir kembali, urung niat memiliki powerbank. Keraguan karena banyaknya produk murahan dan pernah memilih powerbank palsu alias tidak berkualitas membuat saya ragu memiliki produk ini.

Keraguan itu mulai perlahan tersingkirkan oleh sebuah powerbank bernama ASUS ZenPower Ultra. Sebuah nama yang menjanjikan. Dan bukan sekadar omong, karena nama Ultra ini mengacu pada kapasitasnya yakni 20100mAh. ZenPower seri sebelumnya, memiliki kapasitas yang lebih rendah, hampir setengahnya. Sudah banyak beredar dari beberapa tahun kebelakang tapi itu tak menarik perhatian mata, apalagi buat smartphone saya yang hanya butuh hitungan jam untuk kembali diisi secara penuh.

screenshot_6

Karena itu, ketika produk ASUS ZenPower Ultra 2 mulai banyak dilirik,  saya pun tidak teguh untuk terus bertahan tanpa powerbank. Namanya juga manusia, bukankah pikirannya gampang sekali tidak teguh?

Kedatangan perangkat berkapasitas besar ini, sontak membawa saya pada simpulan bahwa benar kalau orang itu ketergantungan terhadap baterai. Tapi, gak usah dipusingkan tentang hal ini. Yang perlu jadi perhatian adalah, apakah ASUS ZenPower Ultra ini benar-benar solusi yang dibutuhkan untuk kebutuhan komunikasi di era sekarang? Apakah cukup layak dibeli?

Pemaparan dari saya soal pengalaman memakai ASUS ZenPower Ultraini mungkin bisa membantu. Kalaupun kurang membantu, mari kita diskusi di komentar, agar tulisan saya ini tidak serta merta jadi sampah dunia maya yang hanya numpang saja.

Si Panjang Hitam Berkapasitas Besar

Dengan kapasitas 20100mAh, bentuk badan si pengisi daya dari ASUS ini tampak dua kali lebih besar dibandingkan pendahulunya. Cukup wajar, karena di dalam “tubuh” powerbank banyak lilitan listrik yang tidak bisa saya jabarkan secara teknis. Tapi intinya, jika sebuah powerbank memiliki kapasitas besar tetapi badannya ramping, patut dicurigai power bank tersebut palsu.

Sampai sini, kita bisa mewajarkan bentuk badan ASUS ZenPower Ultra yang terlihat lonjong memanjang ini. Jika dimasukan ke tas sedikit berat dibandingkan powerbank lain pada umumnya.

ASUS tahu persis pengguna akan kesulitan dengan produk powerbank ZenPower dengan kode ABTU008 ini untuk dibawa kemana-mana. Selain agak berat, powerbank ini memiliki panjang 17,5 cm yang tentunya agak kurang ergonomis untuk dipegang atau dimasukan ke saku celana.

Karena hal itu, Asus memberikan sebuah pouch pada paket pembelian ZenPower ABTU008 ini. Pouch yang sangat membantu saya sekali karena saya bisa menyiimpan powerbank yang lapisan depannya terbuat dari allumunium ini.

Pouch ZenPower Ultra Gambar via Julayjo.net
Pouch ZenPower Ultra
Gambar via Julayjo.net

 

 

Pada bagian depan bodi ZenPower Ultra, terdapat logo ASUS yang menandakan bahwa produk ini memang benar buatan ASUS, bukan buatan pabrik pinggir jalan. Tulisan logonya sedekat mata memandang menyatu dengan bodi ZenPower Ultra.

Kemampuan dan Fitur ZenPower Ultra

Pada bagian permukaan atas, ada 4 lampu indikator baterai di tengah, dan satu lampu yang memiliki ukuran sedikit besar yang disebut LED torch. Bagian tersebut diapit oleh tombol On/Off yang membulat tapi merata dengan permukaan dan bagian port input yang sudah mendukung teknologi pengisian baterai cepat. Istilah kerennya Quick Charge.

Di bawah 4 lampu indikator tersebut, terdapat 2 port output yanbg lagi-lagi mendukung teknologi Quick Charge 2.0.

screenshot_4
gambar via https://www.asus.com/id/Phone-Accessory/ASUS-ZenPower-Ultra/

Menilik teknologi ini, saya kemudian berpikir bahwa orang-orang butuh sesuatu yang tidak hanya praktis tetapi juga cepat dalam mendukung aktivitas mereka. Dan siapa pula yang mau menunggu lama, selama Vladimir dan Estragon menunggu Godot, hanya untuk mengisi ponsel pintar agar bisa digunakan kembali.

Sekadar info saja, kegiatan yang menyebalkan itu menunggu pengisian ponsel penuh. Pernah menggunakan powerbank milik teman untuk mengisi ponsel saya yang berkapasitas 3000mAh. Tempo 30 menit, dari 15% hanya mampu menanjak ke 20%. Sunggu ini lebih menyebalkan dari sekadar kamu menunggu balasan chat dari customer care tempat kamu belanja online.

ASUS ZenPower Ultra kemudian datang bak pahlawan anak-anak yang mencoba menyelamatkan dunia. Kali ini, ia datang menyelamatkan segala keraguan saya terhadap Powerbank. Saya mengisi baterai ponsell pintar saya dari 20% sampai 100% hanya membutuhkan waktu 2 jam lebih sedikit. Mulai saat itu, kalau berpergian , saya sedia ASUS ZenPower Ultra dan tak lagi mencari colokan listrik.

Karena sudah mulai yakin dengan ASUS ZenPower Ultra, saya pun penasaran dengan kemampuan jumlah perangkat yang bisa diisi oleh powerbank ini. Hasilnya, powerbank ini mampu mengisi ponsel pintar saya yang berkapasitas 3000mAh sebanyak 3 kali dan ponsel istri saya yang berkapasitas 2500mAh 1 kali.

Menilik hitung-hitungannya sih, memang tidak sampai 20100mAh. Meski ditulis agak kecil, di bodi ASUS ZenPower Ultra tertulis rated capacity 12800mAh. Lho, kalau begitu ASUSW berbohong dong? Tidak, ASUS tidak berbohong. Kapasitas ASUS ZenPower Ultra pada dasarnya adalah 20100mAh. Hanya saja, ketika pengisian pada ponsel pintar, tegangan yang dibutuhkan menjadi naik sehingga ada rumus tertentu yang membuat kapasitas ASUS ZenPower Ultra ini memiliki rated capacity 20100mAh.

screenshot_3
Rated capacity ZenPower Ultra

Hal ini biasa di produk powerbank. Jika agak bingung, bisa membaca tulisan ini yang lebih teknis membahas soal kapasitas powerbank.

Kekaguman saya pada produk ini bukan sekadar karena kapasitasnya yang besar. Produk ini juga mendukung teknologi QuickCharge 2.0, yang berdasarkan klaim ASUS bisa diisi dari kosong sampai semua indikator lampu penuh dari 100% hanya 7,5 jam. Tapi ketika saya mengujinya, waktu yang dibutuhkan untuk mengisi penuh baterai ini sekitar 10 jam.

screenshot_5

Pada akhirnya, kehidupan saya kini bukan bergantung pada baterai, tapi pada bagaimana baterai tersebut bisa tetap menyala sehingga membantu saya atau mungkin kamu para pembaca) dalam keadaan terdesak. Biar tidak ada cerita, momen penting yang terlewatkan, panggilan darurat, atau untuk sekadar eksis di media sosial, ketika kita di luar.

Tak usah resah lagi, karena yang dibutuhkan ketika terdesak itu adalah ASUS ZenPower Ultra. Bahkan, sangat dibutuhkan pada keadaan tertentu, seperti ketika mati lampu atau berada di ruangan gelap. Lho kok bisa? Yah, karena powerbank ini dilengkapi senter LED torch yang sudah saya jelaskan tadi. Fitur ini tadinya saya abai tapi ternyata membantu ketika suatu malam, lampu tiba-tiba mati.

LED yang bisa dijadikan center berbulat bercahaya
LED yang bisa dijadikan center berbulat bercahaya

Jadi hal apa yang dibutuhkan saat mendesak? Saat kamu ingin terus aktif dan tetap bisa terhubung dengan orang banyak. Selain pulsa tentunya, sediakan pula powerbank ASUS ZenPower Ultra sebagai teman gawai pintarmu.

Tiba di bagian akhir tulisan sebelum, saatnya menanyakan apakah diantara kamu  sudah ada yang mulai melirik ZenPower Ultra? Sudah atau masih ragu?  Kalaupun ragu, biasanya muncul  lantaran ketakutan penggunaan powerbank yang menurut beberapa orang tidak aman.

Tidak apa kalau ragu, cuman hanya memberikan info pelengkap saja bahwa  keyakinan saya terhadap ZenPower Ultra adalah berkat “11 jaminan rasa aman” yang tersemat dalam ZenPower Ultra.

ASUS menyebut hal ini sebagai ASUS PowerSafe Technology.

Adanya ASUS PowerSafe Technology membuat ASUS ZenPower Ultra terjaga temperature-nya saat mengisi daya ponsel pintarmu . Fitur ini juga meminimalisir hubungan arus pendek, jadi yang takut korslet, jangan sungkan, powerbank ini tidak akan bikin korslet kok. Tegangan yang berlebih pun tidak akan terjadi, baik saat ZenPower Ultra sedang diisi kapasitasnya atau saat sedang digunakan mengisi daya smarpthone kamu.
Informasi lengkap terkait ASUS PowerSafe Technology bisa dilihat pada gambar berikut.

screenshot_1

Yang saya paparkan pada tulisan ini adalah sesuai pengalaman penggunaan ASUS ZenPower Ultra. Jika terasa kurang manfaatnya atau masih ragu, alangkah baiknya pembaca mengetahui lagi lebih detail tekait  fitur dan spesifikasi ZenPower Ultra silakan simak di laman resminya berikut ini.

Kalau sudah yakin, siapkan segera dana sekitar Rp.750.000 untuk memboyong ASUS ZenPower Ultra yang akan membantu dan jadi solusi saat kamu-kamu terdesak dan panik saat persentasi baterai ponselmu akan habis.

P.S. Foto yang tak tercantum sumber adalah dokumentasi pribadi penulis

Advertisements