Ada seorang teman yang mentakan kalau saat ini adalah saat ketika kita tidak bisa menghindari informasi. Berbeda dengan dulu, ketika orang banyak mencari informasi. Saat ini, justru informasi yang datang ke kita, bukan lewat berita saja tetapi juga lewat media sosial.

Kehadiran informasi yang datang secara cepat ini memberi efek positif karena banyak orang yang cepat tahu tentang suatu kabar atau berital. Tapi, informasi yang cepat ini bagai pedang bermata dua. Malah pedang tajamnya lebih  mengena.
Mengapa?

Sederhana, informasi yang datang secara cepat tidak serta membuat informasi tersebut benar dan terverifikasi. Justru saat ini, malah banyak informasi yang datang cepat tetapi diragukan kebeneran. Bahkan, dominasi isi berita tersebut bohong. Isitlah populernya Hoax.

Sialnya, Hoax yang beredar begitu mudah diterima oleh netizen atau warga internet. Tidak sedikit yang mengiyakan sebuah kabar bohong tanpa verifikasi lebih lanjut. Terlebih saat ini banyak media online yang hadir yang memberitakan sebuah kabar Hoax.

Di tengah kondisi seperti ini, perlu suatu gerakan untuk mengantisipasi berita-berita hoax. TIdak usah terlalu jauh gerakan sampai membuat aksi dengan tanggal dan bulan cantik. Melawan gerakan hoax bisa dimulai oleh siapa saja. Termasuk oleh Anda.

Anda yang aktif di media sosial misalnya, bisa membantu mencegah berita hoax dengan mengedukasi merea terkait suatu kabar tertentu. Tentu saja Anda juga tidak perlu menyebarluaskan berita hoax tersebut. Justru Anda bisa menulis status verifikasi terkait suatu berita hoax.

Di beranda Facebook saya atau linimasa Twitter saya, berita hoax juga sering muncul. Tapi saya bisa memfilternya dengan cara tidak ikut-ikutan komentar atau berbagi tulisan tersebut. Justru saya sering membagikan beritia verifikasi terkait sebuah kabar bohong.  Atau paling tidak saya lebih memilih diam terhadap suatu kabar yang belum jelas kebenarannya.

Tidak usah jauh-jauh ke teman di media sosial, kita juga bisa bergerak mencerdaskan anggota keluarga yang termakan hoax. Pernah suatu ketika di grup WhatsApp keluarga, ada anggota keluarga yang memang baru paham internet sering membagikan tautan dari sebuah situs.

Kalau tautan tersebut berisi berita yang tidak terlalu penting saya biasanya tidak menanggapi. Tapi jika berita tersebut ternyata hoax apalagi mengandung provokasi, dan menyinggung SARA, saya biasanya menjelaskan kalau berita tersebut bohong. Saya berikan klarifikasi melalui tautan dari situs media mainstream di Indonesia.

Saya sudah seperti polisi hoax di grup WhatsApp kelaurga saya. Saya tidak merespon sebuah berita, bisa bahaya sebuah kabar. Meskipun saya kadang tidak terlalu peduli sih dengan isi berita gosip tentang Raffi Ahmad misalnya yang membuat grup keluarga heboh. Kalau isi berita tentang ini sih bisa dijadikan guyonan saja.

Oh yah, saya sempat was-was ketika saya pergi ke suatu daerah di Garut dalam tempo 3 hari. Saya kira saya bakal absen jadi polisi hoax di grup WhatsApp keluarga saya selama 3 hari tersebut. Pasalnya, saya takut di daerah tersebut tidak ada sinyal internet. Bisa sih saya verifikasi 3 hari kemudian, tapi apalah nanti sebuah kabar bohong bisa jadi “dimakan lahap-lahap oleh anggota keluarga”.
Tapi ketakutan saya tidak terjadi. Pasalnya, tempat yang saya datang di Garut, ternyata masih memiliki jaringan internet cepat.  Saya waktu itu memakai dua provider. Dan provider Smartfren lah yang sinyal internetnya cukup kuat. Saya jadi tetap siaga jadi polisi hoax meskipun saya berada di daerah.

Bukan hanya jadi polisi hoax di anggota keluarga saja. Saya juga sering menulis artikel dan berita yang berkaitan dengan internet. Tujuannya tentu untuk ikut memberikan informasi yang tepat dan turut mencerdaskan netizen yang sering terprovokasi berita hoax. Saya biasanya menulis di blog saya yang ini, hilmangraha.com Tapi karena saya juga kerja di media, saya juga menjadi content manager di Plimbi.com, sebuah situs citizen journalism yang bisa jadi tempat untuk menulis bagi siapa saja.

Karena sifatnya yang memungkinkan semua ornag nulis, Plimbi.com sering jadi tempat spam berita, promosi produk, ataupun berita hoax. Nah, disinilah tugas saya untuk mengawasi artikel-artikel yang tidak valid atau justru hoax. Tentu saja artikel jenis promosi produk sering jadi pengawasan saya. Untuk artikel-artikel yang sifatnya umum, opini, ataupun berita yang valid tentu saja saya loloskan.

Oh yah posisi Content Manager ini hanya satu orang yaitu saya sendiri. Otomatis kadang saya bekerja mengawasi situs tidak kenal waktu. Tak hanya di kantor, kadang di rumah, atau di luar. Yang bikin agak berat mengawasi situs mungkin ketika di luar karena saya harus tersambung dengan internet. Untungnya, jaringan Smartfren 4G 100% sering membantu pekerjaan saya.

Jika tidak karena Smartfren 4G, mungkin kerjaan saya sebagai “polisi hoax” dan “polisi artikel di Plimbi “ akan terhambat.  Jika saja tidak ada Mifi di rumah, saya mungkin pakai jaringan internet lain yang kadang sering putus-putus dan membuat kesal karena kerjaan jadi tidak maksimal.

Sebenarnya paling sering saya melakukan thetering sih melalui smartphone yang sudah terhubung dengan jaringan Smartfren 4G LTE. Dulu saya memakai produk Andromax R yang menurutnya saya cukup bagus dalam menunjang kinerja saya.

Kini di tahun 2017, Smartfren juga punya dua produk Andromax lain yang sebenarnya patut dilirik. Apalagi jika nantinya saya pergi ke luar negeri. Kedua produk tersebut adalah Andromax L dan Andromax B. Kedua smartphone tersebut memiliki fitur seperti VoLTE dan Vo-WIFI yang memungkinkan kita menelepon ke luar negeri atau sebaliknya. Fitur keren lainnya adalah SVI atau Sunlight Visibility  Improvement (SVI) yang menurut saya jadi suatu keunggulan karena bisa melihat layar lebih jelas meskipun dibawah terik matahari.

Sepertinya kedua produk Smartfren 4G terbaru ini cocok untuk saya lirik dalalam menunjang kinerja saya sebagai #Generasi4G  yang secara tidak langsung turut membantu mencerdaskan netizen dalam melawan hoax

 

Sumber Gambar via Cradio.fm

 

 

Advertisements