Koperasi Digital, Strategi Koperasi untuk Beradaptasi dengan Zaman

cooperative

Sudah sejak lama, kita semua diajarkan tentang koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional. Sudah ada bukti pula bahwa koperasi menjadi pilar penting bertahannya masyarakat Indonesia ketika krisis terjadi pada 1998. Dua pernyataan tersebut mengindikasikan satu hal, koperasi adalah organisasi ekonomi merakyat yang bisa bertahan meski dihadang krisis sekalipun.

Sayangnya, di era modern. koperasi seperti “tidak mendapat tempat” di era globalisasi ini. Memang masih banyak koperasi yang tumbuh dan berkembang di berbagai daerah, tapi keberadaannya tergolong“stagnan”.

Fungsi koperasi tampak seperti dimanfaatkan untuk simpan pinjam saja. Padahal, jika koperasi banyak dimanfaatkan untuk kepentingan produktif, koperasi bisa tumbuh dan mendapat tempat di masyarakat, terutama di kalangan generasi milenial (generasi yang melek dengan teknologi dan informasi).

Generasi milenial tampak melihat koperasi sebagai produk usang yang ketinggalan zaman. Generasi milenial tidak melihat koperasi sebagai produk kekinian. Penyebabnya karena koperasi tidak  mampu beradaptasi dengan perubahan zaman yang begitu cepat ini.

Faktor inilah yang menurut hemat saya, membuat koperasi di Indonesia berjalan di tempat. Koperasi seperti tersingkirkan oleh konsep utama yang lebih modern. Padahal koperasi di Indonesia punya potensi besar untuk berkembang dan bersaing dengan produk lain yang lebih modern.

Salah satu contoh koperasi yang sukses di dunia dan jadi patokan adalah Zen Noh. Koperasi yang berdiri tahun 1972 ini merupakan enggabungan dua sekunder koperasi pertanian level nasional, yaitu Zenkoren (yang ber­gerak dalam pengadaan kebutuhan pertanian) dan Zenhanren (bergerak di bidang pemasaran pro­duk pertanian)..

Zen Noh adalah koperasi asal Jepang yang mampu mencapai perputaran omset hingga 63.449 dolar AS, atau Rp 583,73 triliun) pertahun. Perncapaian itu diraih Zen Noh karena beberapa hal. Diantaranya adalah karena jumlah anggota yang sudah mencapai lebih dari 10,2 juta jiwa serta dukungan sistem informasi teknologi yang sudah mereka miliki.

Apakah koperasi di Indonesia bisa berkembang seperti Zen Oh? Tentu potensi ke arah sana ada. Hanya saja, perlu beberapa strategi agar koperasi bisa bertahan di tengah kompetisi yang serba cepat ini.

Banyak koperasi yang begit

Jika ingin berkembang seperti Zen Oh atau minimal beradaptasi di era modern seperti sekarang. Ada 5 hal yang perlu dilakukan oleh koperasi di Indonesia untuk bersaing di era modern.

1. Memiliki Website

Website adalah opsi penting yang harus dimiliki oleh lembaga koperasi saat ini. Memiliki website berarti memiliki identitas koperasi yang jelas dan bisa dianggap sebagai lembaga koperasi yang lebih professional. Kebradaan website juga jadi informasi untuk mereka yang ingin mengetahui informasi lebih jelas terkait koperasi. Selain memiliki website, lembaga koperasi juga diharapkan sudah mengajukan Google My Business yang tujuannya agar lebih mudah mencari koperasi di Google.

2. Penggunaan Aplikasi Koperasi

Tidak sedikit lembaga koperasi yang masih memakai pencatatan manual dalam mengelola data koperasi mereka. Ada yang masih menulis memakai buku manual tetapi juga ada yang mulai beradaptasi dengan teknologi, minimal sudah menggunakan aplikasi pengolah data semacam Microsoft Excel.

Jelas, agar koperasi tidak ketinggalan zaman, pengelolaann data sebaiknya sudah menggunakan aplikasi koperasi tersendiri. Tujuannya agar pengelolaan database anggota, pengelolaan bisnis, dan laporan keuangan bisa lebih mudah dilakukan.

3. Penggunaan Database Digital

Aplikasi yang dimiliki koperasi sebisa mungkin sudah meliputi sampai data anggota yang bisa mudah diakses dimana saja. Artinya, aplikasi harus terhubung dengan jaringan internet. Tujuannya jelas, agar pengurus (bahkan anggota) bisa mengakses darimana saja.

Di tengah era mobile dan banyaknya orang menggunakan smartphone, penggunaan aplikasi semacam ini jelas tak terlelakan keberadaannya. Karena itu, sangat penting bagi pemiliki koperasi untuk memiliki database digital yang lengkap yang bisa dipantau dari mana saja. Mengapa harus memiliki database yang lengkap? Karena saat ini, yang paling mahal adalah data. Masa depan koperasi justru harus bisa memanfaatkan data yang ada sebagai acuan untuk bisa memahami konsep bisnis di era modern. Ingat, Google dan Facebook saja bisa terkenal dan menghasilkan banyak uang karena mereka memiliki data banyak orang di dunia;.

4. RAT Secara Online

Kegiatan Rapat Anggota Tahunan atau RAT secara online bisa membuat kegiatan koperasi lebih efektif, Pengurus dan anggota tidak perlu lagi melakukan rapat anggota tahunan secara tatap muka langsung. Banyak media internet seperti WhatsApp dan kawan-kawannya yang memungkinkan rapat anggota tahunan dilakukan secara online.

Konsep RAT secara online ini juga sudah terangkum secara jelas dalam Peraturan Menteri Koperasi dan UKM RI Nomor 19/Per/M.KUKM/IX/2015. Peraturan tersebut tercantum pada bagian keempat rapat anggota melalui media Elektronik Pasal 16, yang berbunyi

“Rapat Anggota dapat juga dilakukan melalui media telekonferensi, video konferensi, atau sarana media elektronik lainnya yang memungkinkan semua peserta saling melihat dan mendengar serta berpartisipasi langsung dalam Rapat Anggota”

Jika koperasi sudah mulai beradaptasi secara digital, maka pelaksanaan RATA secara online tentu bisa dilakukan. Apalagi RAT secara online memiiliki kelebihan, diantaranya: lebih banyak orang yang terlibat dalam rapat dan juga lebih hemat biaya.

Pelaksanaan RAT secara online tentunya juga akan lebih siap jika dalam aplikasi koperasi, sudah ada fitur RAT yang memungkinkan anggota dan pengurus bisa memberikan hak suara dan juga memungkinkan hasil rapat didokumentasikan secara digital.

5. “Mengubah Mindset Anggota Koperasi”

Poin satu sampai empat tidak akan terwujud jika orang yang terlibat dalam koperasi tidak memiliki mindset digital. Artinya, agar lembaga koperasi lebih maju dan lebih siap di era internet, maka harus diubah dulu pola pemikiran SDM yang terlibat dalam koperasi.

Halangan-halangan semacam sudah nyaman dengan konsep koperasi tradisional, ribet, atau gaptek tentu harus diubah secara perlahan. Minimal para pengurus koperasinya yang harus lebih siap untuk berubah. Jika pengurus sudah siap, maka bukan tidak mungkin anggota juga bisa menyesuaikan diri agar koperasi bisa bertahan di era globalisasi.

Jika 5 poin tersebut dapat direalisasikan dengan baik, bukan tidak mungkin koperasi bisa mendapat tempat di generasi milenial. Mereka bisa lebih mudah akses informasi ke internet dan mengetahui identitas koperasi.

Tapi yang lebih penting, koperasi yang sudah siap dengan era digital, bukan tidak mungkin bisa mengikuti koperasi yang sudah sukses di dunia. Contohnya seperti ZEN NOH yang hanya dengan website mereka, mereka mampu menyampaikan laporan keuangan, dan hasil rapat anggota. Semuanya karena konsep digital dan data yang sudah terintegrasi dalam sebuah sistem informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s