Poin Utama
- Saya menghadiri gathering ASUS ExpertBook Ultra di Bandung, sebuah laptop bisnis yang diklaim secara berani sebagai “The Flagship of the Industry”.
- Dibangun dari material canggih AZ31B Magnesium Lithium Alloy, laptop ini memiliki bobot super ringan (0,99 kg) namun dirancang sangat tangguh.
- Menggunakan teknologi layar Tandem OLED dengan kecerahan hingga 1.400 nits, masa pakai lebih awet, dan efisiensi daya yang 40 persen lebih hemat.
- Menawarkan performa gahar di bodi setipis 1,09 cm berkat prosesor Intel Core Ultra X9 388H (TDP 50W), RAM LPDDR5x, dan sistem pendingin ExpertCool Pro.
- Fokus pada keamanan data perusahaan dan keberlanjutan investasi lewat kapabilitas Agentic AI yang bisa dijalankan sepenuhnya secara offline.
Siang itu, 19 Agustus 2026, langit Bandung kebetulan sedang agak mendung. Saya datang ke Djava Hotel di kawasan Sukajadi untuk mengikuti gathering ASUS ExpertBook Ultra.
Sebagai blogger yang cukup sering bergelut dengan dunia gadget, saya sudah terbiasa mendengar berbagai klaim dari brand teknologi. Hampir setiap produk punya embel-embel “terbaik”, “tercepat”, atau “paling inovatif”. Namun, kali ini ASUS datang dengan pernyataan yang cukup berani: “The Flagship of the Industry. Period.”
Tentu saja saya langsung penasaran. Apalagi ExpertBook Ultra disebut membawa performa yang mendekati workstation, tetapi dengan bobot yang bahkan tidak sampai 1 kg.
Pertanyaannya kemudian sederhana: seberapa serius sebenarnya ASUS dengan klaim tersebut? Saya mencoba mencari jawabannya langsung selama mengikuti rangkaian acara hari itu.
Dari Makan Siang, Obrolan, sampai Bocoran Teknologi
Sebelum masuk ke pembahasan teknis, acara dimulai dengan sesi lunch and networking pada pukul 12.00. Suasananya cukup santai, saya duduk bersama beberapa blogger lain yang hadir dan obrolan pun mengalir begitu saja.
Mulai dari cerita soal laptop, port yang sekarang semakin sedikit, sampai pembicaraan tentang perkembangan AI lokal.
Menurut saya, sesi seperti ini justru membuat gathering terasa lebih hidup.
Saya juga mendapat kesempatan berbincang langsung dengan tim ASUS Business yang ikut membaur bersama kami, sesekali memberikan sedikit gambaran tentang apa yang ada di balik bodi tipis ExpertBook Ultra.
Ditambah makan siang yang cukup mengenyangkan, sesi pembuka ini menjadi bekal yang pas sebelum kami masuk ke materi yang jauh lebih padat. Setelah makan siang selesai, dari obrolan santai, kami masuk ke pembahasan serius soal pasar laptop bisnis dan teknologi.
Laptop Bisnis Sudah Tidak Bisa Cuma Andalkan Mobilitas

Sesi pertama dimulai oleh Aldy Ramadiansyah bersama tim ASUS Business Marketing. Mereka membuka pembahasan dengan kondisi pasar laptop bisnis saat ini. Menurut ASUS, masih banyak laptop bisnis yang terasa monoton, sementara kebutuhan pengguna profesional sudah berubah cukup jauh karena perkembangan AI yang semakin cepat.
Dulu, laptop bisnis mungkin cukup dituntut ringan, aman, dan mudah dibawa. Sekarang kebutuhannya lebih kompleks.
Profesional membutuhkan perangkat yang aman untuk data perusahaan, punya konektivitas lengkap tanpa harus terus membawa dongle, dan bisa memanfaatkan AI tanpa selalu mengandalkan koneksi cloud.
Dari sini, ASUS melihat perangkat komputasi bukan lagi sekadar alat kerja, melainkan sudah menjadi bagian dari investasi perusahaan. ExpertBook Ultra diposisikan untuk menjawab kebutuhan tersebut, termasuk kemampuan menjalankan berbagai proses AI secara offline.
Mulai Membongkar ASUS ExpertBook Ultra

Setelah mendapatkan gambaran mengenai arah pasar, pembahasan masuk ke ExpertBook Ultra secara lebih mendalam.
Said Dahda, Commercial Technical PR ASUS Indonesia, mengambil alih sesi berikutnya untuk membahas satu per satu bagian laptop, mulai dari material, layar, performa, pendinginan, sampai fitur AI dan keamanan.
Materialnya Bukan Magnesium Biasa

Hal pertama yang cukup menarik adalah material bodinya. ASUS menggunakan AZ31B Magnesium Lithium Alloy, material yang juga digunakan pada jet tempur dan mobil F1. Material ini diklaim 34 persen lebih ringan, tetapi tetap memiliki kekuatan yang tinggi.
Bodinya juga tidak dibuat dengan cara biasa, melainkan menggunakan proses CNC laser cutting untuk menjaga rigiditas struktur sasis.
Kemudian ada lapisan pelindung ASUS Nano ceramic coating. Melalui teknologi oksidasi keramik PEO, permukaan bodinya memiliki tingkat kekerasan 9H, angka yang hanya satu tingkat di bawah intan.
Bagi saya, bagian menariknya justru bukan sekadar angka tersebut, melainkan demonstrasi yang ditunjukkan langsung.
Noda kosmetik maupun goresan akibat kunci bisa dibersihkan dengan mudah.
Artinya, ASUS tidak hanya mengejar tampilan premium ketika laptop masih baru, tetapi juga berusaha menjaga agar tampilannya tetap terlihat profesional setelah dipakai dalam waktu lama.
Tandem OLED yang Bikin Saya Penasaran

Kalau ada satu bagian yang paling menarik perhatian saya, layar Tandem OLED menjadi salah satunya. ExpertBook Ultra menggunakan struktur dua lapis RGB, sehingga ASUS bisa mengejar tingkat kecerahan yang lebih tinggi sekaligus menjaga konsumsi daya tetap efisien.
| Fitur | Single OLED (Standar) | Tandem OLED (ExpertBook Ultra) |
|---|---|---|
| Kecerahan puncak | 600 nits | 1.400 nits (HDR peak) |
| Efisiensi daya | Standar | 40 persen lebih hemat |
| Ketahanan panel | Risiko burn-in standar | Sangat rendah, masa pakai ganda |
| Teknologi proteksi | Gorilla Glass standar | Corning Gorilla Glass Victus, tahan 100 kg |
ASUS juga menambahkan Corning Gorilla Matte yang membuat pantulan layar berada di angka 19 GU (Gloss Units). Sebagai perbandingan, layar anti-silau biasa bisa mencapai 80 GU. Secara sederhana, layar ini dibuat supaya tetap nyaman dilihat dalam berbagai kondisi, rasanya lebih dekat dengan pengalaman membaca di atas kertas dibanding menatap layar yang penuh pantulan.
Performa Kencang di Bodi 1,09 cm

Nah, bagian ini yang paling membuat saya penasaran: bagaimana mungkin laptop setipis 1,09 cm bisa membawa performa sebesar itu?
ASUS memasukkan Intel Core Ultra X9 388H generasi ketiga dengan TDP 50W.
Performanya disebut bisa tetap stabil tanpa throttling, sebuah angka yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan ultrabook lain yang rata-rata masih bermain di kisaran 15–25W. Untuk urusan AI, total kemampuan platform mencapai 180 TOPS, dengan NPU mandiri berada di angka 50 TOPS.
RAM yang digunakan juga sudah LPDDR5x dengan kecepatan 9.600 MT/s, membuat bandwidth untuk pemrosesan AI jadi lebih lega.
Penyimpanannya menggunakan SSD PCIe Gen 5 dengan kecepatan baca hingga 14.000 MB/s, sekitar dua kali lipat dibanding generasi sebelumnya. Sementara untuk grafis, GPU Intel Arc B390 (12 Xe Cores) diklaim mampu mengungguli RTX 4050 30W hingga sekitar 35 persen dalam pengujian 3DMark Time Spy.
Tentu saja, muncul pertanyaan panasnya dibuang ke mana? Jawabannya ada pada sistem ExpertCool Pro. Kipas dengan 97 bilah Liquid Crystal Polymer dan sirip heatsink setebal 0,1 mm membuat laptop tetap bisa berjalan di bawah 28 dB pada mode standar. Tekanan udara positif crosswind juga meningkat 12 persen, jadi tenaga besar tidak lantas membuat suara kipas mengganggu.
AI yang Bisa Jalan Tanpa Harus Selalu Online
Pembahasan bergeser ke bagian yang sekarang hampir selalu ada di laptop baru: AI. ASUS membawa konsep Agentic AI melalui Zenny Cloud yang menggunakan model lokal Gemma 26B.
Yang paling menarik, prosesnya bisa dilakukan secara lokal. Untuk membuat draf presentasi atau rencana perjalanan, pengguna tidak harus mengirim semua data sensitif tersebut ke internet.
Ada juga fitur Expert Meet yang dilengkapi VoicePrint, mampu mengenali suara pengguna sehingga rapat tetap kondusif meski di lingkungan yang bising hingga 95 dB peak loudness.
Untuk keamanan, ASUS membekali laptop dengan Dual ROM BIOS self-healing dan enkripsi OPAL 2.0. Di sisi keberlanjutan (ESG), setiap unit disebut hanya menghasilkan 168 kg CO2, setara dengan 13.500 kali pengisian daya ponsel cerdas.
Akhirnya Bisa Pegang Langsung

Setelah mendengar cukup banyak angka, sesi hands-on menjadi bagian yang paling saya tunggu. Di meja demonstrasi, ExpertBook Ultra disandingkan dengan Lenovo ThinkPad X1 Carbon Gen 13 dan MacBook Air M4.
Di sinilah klaim soal bobot mulai terbukti. Saya awalnya membayangkan laptop 14 inci tetap akan terasa cukup berat, tapi ternyata versi POLED ExpertBook Ultra hanya berbobot 0,99 kg. Saat diangkat, sensasinya benar-benar ringan layaknya membawa map kosong.
Urusan port juga memuaskan. Ketika MacBook masih membuat pengguna bergantung pada dongle, ExpertBook Ultra sudah menyediakan port HDMI 2.1 dan USB-A 3.2. Ini poin krusial bagi profesional yang sering berpindah tempat.
Touchpad-nya menggunakan teknologi Haptic dengan enam sensor gaya independen yang terasa konsisten dan senyap. Sektor audionya tak kalah gahar, membawa enam speaker (dua woofer, dua tweeter) yang mampu menghasilkan suara hingga 95 dB.
Dari Materi Teknis Berakhir di Kuis Kahoot

Setelah satu sesi penuh membahas spesifikasi, suasana akhirnya berubah ketika kuis Kahoot dimulai.
Pertanyaannya bukan sekadar kuis ringan. Peserta benar-benar ditantang mengingat materi yang baru saja disampaikan, mulai dari jumlah TOPS NPU, material AZ31B, sampai kecepatan SSD Gen 5.
Untungnya, saya cukup rajin mencatat sepanjang acara. Nama saya perlahan naik di papan peringkat sampai akhirnya masuk ke posisi tiga besar.
Ketegangannya justru muncul di pertanyaan terakhir tentang kecepatan SSD Gen 5, dan saya berhasil keluar sebagai juara ketiga.
Voucher MAP senilai satu juta rupiah pun berhasil dibawa pulang. Ternyata, catatan soal SSD dengan kecepatan 14.000 MB/s tadi bukan cuma berguna untuk bahan tulisan ini saja.
Bukan Sekadar Laptop, tapi Soal Investasi

Sore harinya, sambil menikmati coffee break, saya mulai melihat ExpertBook Ultra dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Kalau melihat semua yang ditawarkan, laptop ini memang terasa bukan sekadar perangkat premium untuk bekerja, melainkan bentuk investasi bagi perusahaan.
Standar militer MIL-STD-810H dan pelindung layar penahan beban hingga 100 kg menjadi wujud nyata upaya menjaga keawetan perangkat.
Kalau laptop bisa bertahan lebih lama, potensi biaya perbaikan dan penggantian inventaris jelas bisa ditekan. Kemampuan AI lokalnya juga menjaga data perusahaan agar tidak selalu dikirim ke cloud.
Baterainya diklaim mampu bertahan hingga 26 jam. Dukungan full range charging dari 5V sampai 20V juga membuat pengisian daya lebih fleksibel, termasuk menggunakan power bank saat bepergian.
Saya bisa bilang ExpertBook Ultra tidak hanya mencoba menjadi laptop yang tipis dan ringan. ASUS ingin menunjukkan bahwa bodi 1,09 cm dan bobot 0,99 kg tetap mampu menyajikan performa setara perangkat yang jauh lebih tebal.
Apakah semua klaim tersebut akan benar-benar terasa dalam penggunaan sehari-hari?
Tentu hal itu baru bisa dijawab setelah menggunakannya dalam jangka waktu panjang. Namun dari impresi awal hari itu, ASUS memang punya alasan kuat untuk merasa sangat percaya diri.
Bandung menjadi saksi ketika ASUS membawa ExpertBook Ultra dengan satu slogan yang sejak awal sudah mereka lemparkan dengan sangat berani:
“The Flagship of the Industry. Period.”
Spesifikasi ASUS ExpertBook Ultra
| CPU & NPU |
Hingga Intel® Core™ Ultra X9-388H (Opsi: X7-358H, U7-356H, U5-325) – NPU: Dedicated 50 TOPS Neural Processing Unit. – Total Platform: Hingga 180 TOPS. – TDP: 50W Sustained Thermal Design Power via ASUS ExpertCool Pro Technology. |
| Operating System | Windows 11 Pro / Home / Pro Education (64-bit) |
| Memory | Hingga 64 GB LPDDR5x @ 9600 MT/s |
| Storage | Hingga 2 TB M.2 PCIe® Gen 5.0 x4 NVMe (Opsi OPAL 2.0 SED) |
| Display |
14″ 16:10, 3K (2880 x 1800) 120Hz Anti-glare Touchscreen Tandem OLED 14″ 16:10, 3K (2880 x 1800) Touchscreen POLED (Polymer OLED) |
| Graphics | Hingga Integrated Intel® Arc™ B390 (12 Xe Cores) |
| Input/Output |
Kiri: 1x Thunderbolt™ 4 (40Gbps, 4K, PD3.0), 1x USB-A 3.2 Gen2 (10Gbps), 1x HDMI 2.1 TMDS (4K@60Hz), 1x 3.5mm combo jack. Kanan: 1x Thunderbolt™ 4 (40Gbps, 4K, PD3.0), 1x USB-A 3.2 Gen2 (10Gbps). Mobilitas bebas-dongle seutuhnya. |
| Glass & Anti-Glare Tech | Corning® Gorilla® Glass Victus + Corning® Gorilla® Matte |
| Connectivity | Triple-band 2×2 Wi-Fi 7 (802.11be) + Bluetooth® 6.0 dengan LDS |
| Audio | 6-Speaker Spatial Audio dengan Dolby Atmos |
| Battery | 70 Wh, 4-cell Li-Polymer (Arsitektur 2S2P) |
| Dimension | 31.09 x 21.28 x 1.09 cm |
| Weight |
Versi POLED: 0,99 kg Versi Tandem OLED: 1,09 kg |
| Security | ASUS ExpertGuardian & NIST SP 800-193 Compliance |
| Keyboard and Touchpad |
– Full-size, Backlit, Water Spill-Resistant dengan Lapisan UV Khusus – 110 cm² Edge-to-Edge Glass Haptic Touchpad |
| Thermal System | ASUS ExpertCool Pro Technology |
| Sasis & Durabilitas | CNC AZ31B Magnesium-Aluminum dengan ASUS Nano Ceramic Technology |

Leave a Reply