Poin Utama
- Acara ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Bandung 2026 turut dihadiri oleh influencer lifestyle, menunjukkan bahwa laptop kini sangat erat dengan gaya hidup keseharian penggunanya.
- ASUS menekankan pentingnya ketahanan fisik perangkat melalui demonstrasi pengujian berstandar militer MIL-STD 810H terhadap guncangan hingga suhu ekstrem.
- Layanan purnajual menjadi sorotan utama dengan hadirnya garansi internasional dan ASUS VIP Perfect Warranty hingga 3 tahun untuk sejumlah lini laptop premium, didukung 141 titik layanan resmi.
- Demonstrasi AI lokal pada laptop ProArt melalui Hermes Agent membuktikan bahwa kecerdasan buatan kini bisa diintegrasikan secara langsung ke dalam alur kerja kreatif tanpa memerlukan cloud.
- Melalui kampanye Pick Your Vibe, ASUS menghadirkan laptop (seperti Vivobook) dan aksesori (Marshmallow) dengan pilihan warna beragam agar pengguna dapat memilih perangkat sesuai dengan gaya personal mereka.
Pada 22 Oktober 2026, saya berkesempatan menghadiri acara ASUS No.1 Quality & Service Media Gathering Bandung 2026 yang berlangsung di Hilton Bandung. Acara ini mempertemukan rekan-rekan media, blogger, tech reviewer, hingga influencer lifestyle.
Ada satu hal yang sempat membuat saya bertanya-tanya. Biasanya, acara teknologi yang membahas laptop atau produk baru lebih banyak dihadiri tech reviewer dan kreator yang memang fokus membahas gadget.
Namun, kali ini peserta yang hadir terasa lebih beragam, termasuk mereka yang kontennya lebih dekat dengan gaya hidup sehari-hari.
Awalnya saya bertanya-tanya, apa hubungannya laptop dengan influencer lifestyle? Setelah mengikuti rangkaian acara, saya mulai memahami arahnya. ASUS ternyata tidak hanya ingin berbicara soal performa dan spesifikasi, tetapi juga bagaimana laptop serta aksesori bisa menjadi bagian dari keseharian penggunanya.
Dari Ketahanan Laptop sampai Ekosistem AI

Acara dibuka dengan pemaparan dari perwakilan ASUS Indonesia.
Ada tiga sosok yang tampil dalam rangkaian acara ini. Yang pertama ada Davina Larissa sebagai Country Marketing Manager, kemudian ada Brama Setyadi selaku Head of Public Relations & Digital ASUS Indonesia.
Terakhir, ada Adrian Pradipta dari tim Technical Public Relations ASUS Indonesia.
Materi yang disampaikan cukup beragam. ASUS membahas ketahanan laptop, layanan purnajual, perkembangan AI, hingga produk yang dirancang untuk kebutuhan pengguna berbeda.

Salah satu bagian yang menarik perhatian saya adalah penjelasan mengenai ketahanan laptop. ASUS memperlihatkan pengujian berdasarkan standar MIL-STD 810H, termasuk pengujian terhadap guncangan, suhu ekstrem, kelembapan, dan tekanan udara rendah.
Buat saya, demonstrasi seperti ini memberikan gambaran yang lebih konkret dibandingkan hanya membaca klaim ketahanan di lembar spesifikasi.
Kita bisa melihat bahwa laptop tidak hanya dinilai dari kemampuan menjalankan aplikasi atau hasil pengujian performa, tetapi juga dari upaya produsen menguji ketahanannya dalam kondisi tertentu.
Tentu saja, lolos pengujian standar militer bukan berarti laptop tidak mungkin rusak. Namun, ketahanan tetap menjadi salah satu aspek yang layak diperhatikan, terutama bagi orang yang sering membawa perangkatnya bepergian.
Garansi Ternyata Sama Pentingnya dengan Spesifikasi

Selain ketahanan, ASUS juga menjelaskan program No.1 Quality & Service yang menitikberatkan pada layanan purnajual.
Dalam presentasinya, ASUS memperlihatkan bahwa sejumlah lini laptop kini mendapatkan peningkatan perlindungan. Zenbook, ProArt, Vivobook S, Vivobook Flip, dan Vivobook Pro mendapatkan garansi internasional hingga 3 tahun serta ASUS VIP Perfect Warranty hingga 3 tahun.
Sementara itu, Vivobook reguler mendapatkan perlindungan hingga 2 tahun.
ASUS juga menyebut memiliki 141 titik layanan resmi di Indonesia. Untuk lini tertentu, tersedia layanan tambahan seperti pengiriman laptop ke pusat servis, prioritas pemeriksaan dan perbaikan, serta pembersihan perangkat secara gratis sesuai ketentuan.

Hal ini mungkin tidak selalu menjadi perhatian utama ketika seseorang hendak membeli laptop. Biasanya, kita lebih dulu membandingkan prosesor, RAM, layar, atau kapasitas penyimpanan.
Namun, setelah dipikir-pikir, dukungan purnajual juga punya peran penting.
Laptop yang digunakan untuk bekerja setiap hari bukan sekadar perangkat elektronik. Ketika perangkat bermasalah, aktivitas kerja bisa ikut terganggu.
Karena itu, informasi mengenai garansi dan kemudahan mendapatkan layanan perbaikan layak menjadi bagian dari pertimbangan sebelum membeli laptop.
Ketika AI Tidak Hanya Berupa Chatbot

Bagian lain yang menarik perhatian saya adalah demonstrasi AI pada ASUS ProArt P14 dan ProArt P16 yang diperkenalkan bersama NVIDIA RTX Spark.
Mas Adrian Pradipta sempat mendemonstasikan penggunaan AI lokal di laptop ASUS ProArt P14..
Dalam demonstrasi tersebut, ASUS memperlihatkan penggunaan Hermes Agent untuk membantu pekerjaan berbasis dokumen. AI ini dapat membaca folder proyek, merangkum brief klien, lalu membuat draf naskah atau caption dalam file baru.
Bagi orang yang berkutat dengan pekerjaan kreatif dan produksi konten, kemampuan seperti ini terasa relevan. Saya membayangkan bagaimana AI dapat membantu ketika harus mengolah banyak dokumen, memahami arahan klien, atau menyiapkan draf awal sebelum masuk ke tahap penyuntingan.
Yang menarik, pemrosesan dalam demonstrasi tersebut dilakukan secara lokal. Artinya, untuk alur kerja yang diperlihatkan, dokumen proyek tidak perlu dikirim ke layanan cloud.
Meski begitu, ada hal yang perlu dipahami. Hermes Agent dan model AI yang digunakan tidak terpasang secara bawaan, sehingga pengguna perlu mengunduh dan mengaturnya sendiri. Jadi, kemampuan tersebut bukan fitur yang langsung bisa digunakan begitu laptop dinyalakan.
Dari demonstrasi ini, saya melihat bahwa pembahasan laptop AI mulai bergerak melampaui sekadar kemampuan membuat teks atau menjawab pertanyaan. AI juga bisa menjadi bagian dari alur kerja yang membantu menyelesaikan beberapa tahapan pekerjaan.
Tentu saja, seberapa besar manfaatnya akan bergantung pada jenis pekerjaan dan kesiapan pengguna dalam mengatur perangkat lunaknya.
Penuh dengan Tema Lifestyle

Bagian ini yang menurut saya menarik jika melihat acara ASUS dari sudut pandang berbeda.
Di tengah pembahasan teknologi dan AI, ASUS juga memperkenalkan kampanye Pick Your Vibe. Fokusnya bukan semata-mata performa, melainkan bagaimana pengguna bisa memilih perangkat yang sesuai dengan kebutuhan sekaligus gaya personalnya.
ASUS Vivobook 14 dan Vivobook Go 14, misalnya, hadir dalam beberapa pilihan warna. Pilihan ini kemudian dilengkapi aksesori seperti ASUS Marshmallow Keyboard KW100 dan ASUS Marshmallow Mouse MD100 yang mengusung desain ringkas serta warna yang bisa dipadukan dengan perangkat.
Kalau melihat materi presentasinya, ASUS ingin menunjukkan bahwa laptop tidak harus selalu dipandang sebagai perangkat kerja yang hanya dinilai dari spesifikasi. Desain, warna, dan aksesori juga bisa menjadi bagian dari pengalaman menggunakan perangkat sehari-hari.
Di sinilah saya mulai memahami mengapa acara tersebut tidak hanya melibatkan kreator teknologi.
Produk seperti laptop dengan pilihan warna beragam dan aksesori yang lebih personal juga relevan bagi kreator lifestyle, yang biasanya melihat produk dari sisi penampilan, kebiasaan, dan aktivitas sehari-hari.
Tentu saja, saya tidak bisa memastikan bahwa itu satu-satunya alasan ASUS mengundang peserta dari latar belakang berbeda. Namun, materi Pick Your Vibe yang ditampilkan di acara tersebut cukup menggambarkan arah yang ingin mereka sampaikan.
Menariknya, pendekatan seperti ini tidak harus bertentangan dengan kebutuhan produktivitas. Seseorang tetap bisa memilih laptop berdasarkan performa, lalu mempertimbangkan desain dan aksesori sebagai nilai tambah.
Bagi pengguna yang sering bekerja di kafe, misalnya, perangkat yang ringkas dan aksesori yang nyaman digunakan bisa menjadi bagian dari pengalaman bekerja. Sementara itu, pilihan warna mungkin lebih menarik bagi mereka yang ingin perangkatnya terasa lebih sesuai dengan karakter pribadi.
Laptop Bukan Lagi Sekadar Soal Kencang atau Tidak

Setelah mengikuti rangkaian acara di Hilton Bandung, saya melihat ada beberapa hal yang ingin ditonjolkan ASUS melalui ekosistem produknya.
Di satu sisi, ada laptop yang mengutamakan ketahanan dan layanan purnajual. Di sisi lain, ada perangkat seperti ProArt yang diperlihatkan untuk mendukung pekerjaan kreatif berbasis AI. Sementara itu, Vivobook dan aksesori Marshmallow menawarkan pendekatan yang lebih dekat dengan gaya hidup sehari-hari.
Ketiganya menyasar kebutuhan yang berbeda, tetapi punya satu benang merah, yaitu laptop tidak lagi cukup dinilai dari spesifikasi di atas kertas.
Bagi sebagian orang, yang terpenting mungkin performa untuk bekerja. Bagi pengguna lain, garansi dan kemudahan servis bisa menjadi pertimbangan utama. Ada juga yang ingin perangkatnya praktis dibawa ke mana-mana dan memiliki tampilan sesuai selera.
Pada akhirnya, tidak ada satu laptop yang otomatis cocok untuk semua orang. Kebutuhan pengguna tetap menjadi faktor utama dalam memilih perangkat.
Bagi saya, hal menarik dari acara ini bukan sekadar melihat produk dan teknologi yang diperkenalkan, tetapi juga memahami bagaimana sebuah merek mencoba menjangkau pengguna dari berbagai latar belakang.
Mulai dari orang yang mengejar performa, kreator yang membutuhkan dukungan AI, hingga pengguna yang ingin laptopnya terasa lebih personal.
Dan mungkin, dari situ pula saya mulai memahami bahwa membicarakan laptop tidak selalu harus berakhir pada pertanyaan soal prosesor apa yang digunakan atau seberapa tinggi skor benchmark-nya.

Leave a Reply