screenshot-2-572f4301d27a617a048b4567

Saya sudah lama memakai BNI. Tepatnya ketika saya kuliah dulu. Waktu itu saya tidak begitu peduli terhadap BNI karena saya sebenarnya memakai rekening BNI karena kartu mahasiswa saya terintegrasi dengan BNI. Jadi, ketika mahasiswa dulu, saya tidak begitu memanfaatkan rekening atau ATM BNI saya selain hanya untuk membayar semester.

 

Tidak ada saldo yang terisi di rekening BNI mahasiswa saya. Saya juga tidak terlalu peduli, yang penting saya bisa bayar kuliah tepat waktu lewat BNI.

Seiring berjalannya dengan waktu, saya lulus kuliah dan melupakan kartu mahasiswa BNI tersebut. Bukan melupakan sih tetapi menutup rekening BNI tersebut.
Setelah itu, dua tahun saya bergelut tanpa punya rekening. Maklum saya masih ingat ketika 2011 sampai 2013, saya lebih banyak bertransaksi secara tunai. Maklum pula saya kala itu pengangguran yang lebih banyak punya pekerjaan serabutan dan dibayar tunai.

Pertengahan 2013, saya masih bekerja serabutan tetapi sekarang lebih ke online. Karena online, mari saya sebut pekerjaan ini sebagai freelance. Biar lebih keren. Pekerjaan online ini mengharuskan saya punya rekening bank karena pembayaran dilakukan lewat rekening.

Saya jadi ingat rekening BNI saya yang ditutup. Tapi, tentu saya tidak memakainya. Akhirnya saya membuka rekening baru di bank lain. Kala itu sebenarnya saya memilih bank tersebut karena potongannya yang riingan tiap bulan.

Pertengahan tahun 2014, saya kehilangan buku tabungan dan ATM dari bank tersebut. Saya tadinya mau mengurus soal kehilangan ini. Waktu saya menanyakan ke bank tersebut, katanya saya harus mengurus mulai dari RT RW sampai surat kehilangan dari kepolisian.

Ribet.

Karena tidak ada saldo di dalam rekening saya tersebut, saya tidak peduli lagi. Daripada ribet, mending dibiarkan saja.

Kebetulan saya punya rekening lain. Hanya saja belum digunakan.

Memasuki 2015, barulah saya “galau”. Saya jadi ingat BNI dan ingin punya rekening kembali di bank ini. Ketika saya masuk sebuah perusahaan, saya lantas berpikir agar punya rekening untuk gaji saya. Maka sudah saya pastikan untuk memilih BNI kembali.

Rekening saya yang satu lagi, biarlah jadi rekening cadangan.
Saya datangi kantor BNI terdekat dari kantor tempat saya bekerja, yakni di daerah Buah Batu, Bandung.

Mengingat di kawasan tersebut banyak bank dan bangunan lain, saya harus menyusuri jalanan pelan takut terlewat.

Saya pun tiba di kantor BNI. Namun, BNI yang saya datangi ternyata adalah BNI Syariah. Saya baru tahu bahwa di dua kantor tersebut, ada dua kantor BNI. Pertama kantor BNI yang dekat dengan perempatan buah batu (Soekarno Hatta)(. Dan yang kedua kantor BNI Syariah yang posisinya hampir dekat dengan perempatan Pelajar Pejuang

Tadinya saya ragu untuk masuk ke BNI Syariah. Tapi sudah kepalang memarkirkan motor, akhirnya saya masuk dan langsung diarahkan oleh satpam ke bagian customer service ketika saya menyatakan niat untuk membuka rekening.

Saya duduk menunggu karena ada orang lain yang sedang dilayani oleh customer service tersebut.
Setelah itu, giliran saya tiba dan sang customer service menanyakan keperluan.

Saya utarakan bahwa saya ingin membuka rekening BNI. Tapi saya juga menanyakan apakah BNI Syariah berbeda dengan BNI?

Customer service yang melayani saya adalah seorang wanita berkerudung dengan wajah cukup manis itu menjelaskan tentang produk BNI Syariah. Ia juga menjelaskan kalau BNI Syariah satu jaringan dengan BNI. Jadi, kartu ATM BNI Syariah dapat digunakan untuk transaksi di ATM BNI secara gratis.

Tentu ini menarik mengingat bank lain yang juga punya embel ‘syariah” malah punya jaringan ATM sendiri sehingga ketika digunakan di ATM yang tidak memakai embel-embel “syariah” malah kena potongan.

Saya pikir tidak ada salahnya untuk kemudian membuka tabungan di BNI Syariah. Apalagi nantinya akan saya gunakan untuk keperluan menampung gaji saya tiap bulan.

Saya ditawarkan oleh dua produk tabungan BNI Syariah yakni dengan akad Mudharabah atau Wadiah. Saya memilih akad Wadiah karena tidak ada potongan bulanan dan saldo minium yang mengendap juga kecil, yakni 20 ribu saja.

Tanpa menunggu lama, saya punya rekening di BNI Syariah. Saat itu saya sudah punya tabungan BNI Syariah. Untuk ATM sendiri, tidak bisa diambil saat itu (saya lupa karena apa, mungkin stock kartunya yang habis). Saya pun menunggu sekitar dua minggu dan datang ke kantor tersebut.

Akhirnya saya punya ATM BNI lengkap tertera nama saya sendiri di kartu tersebut.

screenshot-2-572f4301d27a617a048b4567
Setelah itu saya sering bertransaksi menggunakan BNI Syariah.

Pemakaian BNI Syariah ini kadang-kadang membuat orang lain malas mentransfer karena tidak umum. Padahal jaringan ATM BNI Syariah sama dengan BNI.

Sempat seorang teman mau transfer uang ke rekening saya. Dia minta kalau bisa rekening BNI. Waktu itu saya memberikan nomor rekening BNI Syariah. Dia keberatan karena nantinya saldo akan terpotong.

Saya pun meyakinkan dia kalau BNI ke BNI Syariah tidak ada potongan untuk transfer karena satu jaringan.

Mengingat jaringan ATM BNI dan BNI Syariah sama saja, saya kadang tidak lagi menyebut BNI Syariah. Cukup BNI saja karena keduanya satu jaringan. Yang membedakan hanya soal sistem tabungannya saja yang bersifat syariah.

Teman saya yang beda bank waktu itu juga sempat kebingungan mencari kode BNI Syariah. Saya bilang pilih BNI saja karena jaringannya sama.

Banyak kejadian lainnya yang membuat saya lebih mudah dalam menggunakan transaksi menggunakan BNI, terutama BNI Syariah.

Saya pun kemudian sedikit merenung, dulu saya sempat memakai BNI, kemudian “pindah ke lain hati”, tpai ternyata tidak bertahan lama. Saya pun kembali menggunakan BNI karena BNI adalah “mantan” yang sulit dilupakan.

Kalau soal mantan sih, saya gampang lupain. Tapi kalau bank seperti BNI ini rasanya sulit dilupakan.

Yah meskipun saya kembali ke BNI dalam “versi lain” yang lebih syariah. Kalau ibarat wanita, BNI yang saya pilih adalah BNI yang lebih syari dan menjauhkan dari riba.

Advertisements