Gambar via fintechist.com
Gambar via fintechist.com

Faktanya, hanya 36% penduduk Indonesia yang punya akses ke bank. Itu berarti, masih banyak penduduk di Indonesia yang bahkan belum tersentuh dengan bank. Hal inilah yang kemudian melahirkan banyak perusahaan rintisan di bidang finansial atau lebih dikenal dengan nama financial technology atau fintech.

Perkembangan financial technology ini melaju pesat seiring pertumbuhan teknologi informasi. Sebut saja DOKU atau Veritrans yang bermain di rancah fintech kategori pembayaran elektronik. Atau Cekajac.om yang merupakan portal untuk perbandingan finansial dan asuransi. Ada juga situs semacam UangTeman atau Taralite yang bermain di ranah peminjaman

Beberapa perusahaan teknologi lainnya juga merambah fintech dan mengintegrasikannya dengan layanan mereka. GO-JEK misalnya dengan layanan GO-PAY-nya

Sayangnya, fintech ini kurang begitu memamasyarakat. Perkembangannya cukup pesat tetapi tidak sefenomena kehadiran GO-JEK, Tokopedia, atau situs startup teknologi lainnya.

Hal ini bisa saja didasari karena belum meleknya orang terhadap dunia fintech. Startup fintech yang ada pun tampaknya belum terlalu menarik minat. Hal ini bisa terjadi karena masyarakat saat ini masih tetap membutuhkan uang dalam bentuk tunai. Karena pembayaran menggunakan uang tunai memang merupakan suatu tradisi yang cukup sulit diubah.

Tapi bukan berarti tidak bisa. Ada banyak cara gar layanan fintech bisa lebih memasyarat. Misalnya, dengan bermain di 3 ranah yang saya kemukakan berikut ini.

1. Penarikan Tunai yang Lebih Mudah

Ide ini muncul ketika saya mempertanyakan fungsi dari layanan uang elektronik yang belakangan banyak hadir. Taruh yang paling ramai adalah sistem pembayaran layanan GO-JEK, GO-PAY. GO-PAY ini adalah alat pembayaran cashless yang memungkinkan kita untuk bertransaksi dengan berbagai layanan GO-JEK.

Membayar dengan GO-PAY lebih mudah. Bahkan kita bisa mendapatkan diskon jika kita memesan layanan GO-JEK memakai layanan GO-PAY.

Sayangnya, dari sisi pengemudi tidak semua suka GO-PAY. Saya pernah menggunakan layanan GO-RIDE dan membayar menggunakan GO-PAY. Ketika sudah mendapat rider, saya disuruh untuk membatalkan pesanan. Katanya dia maunya pakai uang tunai. Dan itu bukan terjadi sekali. Mungkin karena proses penarikan tunai GO-PAY yang lama yang membuat pengemudi tersebut urung menerima pesanan.

Dalam kasus lain, misalnya ketika uang kita sudah masuk sebuah layanan fintech (dalam hal ini e-money), maka kita harus menggunakan uang tersebut sebatas layanan yang diberikan. Misal kita telah deposit satu juta. Kemudian kita hanya membelanjakan uang tersebut senilai Rp 500.000. Suatu ketika, kita perlu uang mendadak. Kita tidak pegang uang tunai tetapi kita punya deposit di layanan fintech tersebut. Jika keperluan kita bisa dibayarkan dengan layanan fintech tentu akan mudah. Tetapi jika keperluan pembayaran kita tidak didukung, tentu ini jadi masalah.

Sebenarnya layanan Doku sudah memecahkan permasalahan ini. Doku, memungkinkan kita untuk mencairkan uang tunai yang telah kita deposit di gerai Alfamart. Sesuatu yang sangat baik.

Hanya saja tentu tidak semua tempat mudah menemukan Alfamart.

Karena permasalahan-permasalahan diatas, sempat terpikir agar layanan fintech tersebut mengembangkan sistem yang mirip ATM tetapi khusus untuk fintech. Misalnya, GO-JEK bisa membuat mesin ATM sendiri yang memungkinkan driver menarik uang tunai dari saldo yang mereka terima hari itu juga.

Doku pun bisa melakukan hal serupa. Mereka bisa menyimpan sebuah mesin yang memungkinkan orang untuk menarik tunai deposit dari DOKU.

Hanya saja tantangannnya, jika ini terjadi perlu investasi yang besar mengingat pembuatan semacam ini akan memakan biaya mahal.

Terlepas dari itu, ide ini menurut saya akan memudahkan orang untuk menggunakan layanan fintech. Karena dengan cara tersebut, orang tidak perlu khawatir lagi untuk melakukan pembayaran dimana saja dan kapan saja.

2. Pemasukan atau gaji ke ranah e-money

Yang membuat orang belum mau menggunakan layanan e-money atau layanan fintech lainnya adalah keribetan yang mengharuskan kita mentrasfer uang ke layanan fintech tersebut.

Misal ketika gaji sudah masuk ke rekening, maka biasanya uang tersebut kita ambil dan kita belanjakan untuk berbagai keperluan. Untuk yang berkeluarga tentunya, biasanya langsung memberi uang tunai dan membiarkan mereka untuk membelankan uang tersebut semau mereka.

Karena hal ini, saya kemudian berpikir, mengapa tidak mencoba agar layanan fintech bekerjasama langsung dengan perusahaan atau menawarkan langsung kepada para pegawai? Semisal, si A memiliki gaji Rp 5-juta/bulan. Uang gaji yang tadinya masuk ke rekening si A, kini diubah masuk ke layanan fintech. Jadi, bagian finance nantinya mentransfer langsung gaji si A ke layanan fintech.

Misal si A ini adalah seorang suami. Ia tidak perlu repot untuk mengambil uang tunai dan memberikan kepada istrinya. Cukup sang istri yang misalnya mengelola gaji suami di layanan fintech tersebut. Atau bisa saja fintech tersebut memungkinkan dua orang (dalam hal ini keluarga) mengakses satu layanan fintech.

Dengan cara ini, meski si A dan istrinya berada di tempat berbeda, keduanya bisa mengakses layanan akun fintech yang sama pada saat itu juga. Jadi, si A tidak perlu repot memberikan uang tunai atau mentransfer ke rekening istrinya.

Dengan adanya layanan semacam ini, tentunya akan mudah bagi orang untuk lebih dekat dengan fintech.

3. Layanan Pengganti Kartu Kredit

Yang ketiga ini sebenarnya ide yang niatnya untuk dikembangkan. Sayangnya, saya bukan seorang developer. Saya hanya seorang penulis yang cukup menyenangi dunia startup dan fintech.

Tapi tak apa untuk dibagikan, siapa tahu ada programmer disana yang mendapat inspirasi dari ide saya ini. Termasuk dengan poin pertama dan kedua.

Poin ketiga ini adalah layanan fintech yang bisa berfungsi sebagai pengganti kartu kredit atau bisa dibilang sebagai layanan peminjaman kartu kredit.

Entah saya tidak tahu apakah sudah ada layanan fintech semacam ini atau belum. Tetapi jika sudah ada tentu akan sangat menarik.
Ide dari layanan ini adalah ketika saya ingin mendapatkan promo cicilan kartu kredit, baik online maupun offline. Sayangnya, saya terlalu takut untuk punya kartu kredit sehingga saya tidak mengajukan kartu kredit.

Nah, tentu sebenarnya ada layanan keuangan lain yang menawarkan cicilan. Tetapi biasanya mereka tidak menawarkan cicilan bunga 0% (yah kali ada).

Bagaimana misalnya kalau ada fintech yang mampu meminjamkan kartu kreditnya, sehingga nantinya kita hanya perlu membayar kepada layanan fintech tersebut perbulannya.

Misal saya membutuhkan sebuah barang elektronik seharga 12 juta. Barang tersebut bisa dicicil dengan kartu kredit dengan cicilan bunga 0%. Saya kemudian mengajukan ke satu layanan fintech agar saya mendapatkan promo cicilan bunga 0% tersebut. Layanan fintech akan menerima uang dari saya perbulan. Dan toko yang menjual barang elektronik tersebut akan memotong saldo kartu kredit layanan fintech tersebut.

Mengapa tidak langsung saja saya punya kartu kredit? Sekali lagi, ada dua permasalahannya. Pertama, keribetan pengajuan kartu kredit. Kedua, tidak semua orang mau punya kartu kredit tetapi saya yakin tidak sedikit yang membutuhkan layanan kartu kredit itu.
Ketiga ide diatas yang saya kemukan bisa jadi ranah baru bagi para pemain fintech yang sudah ada. Atau bisa pula untuk para pemain baru yang belum masuk ranah fintech.  Saya yakin, ketiga ide tersebut akan cukup menarik minat orang untuk menggunakan layanan fintech meskipun ide yang saya kemukan masih terlalu mentah karena memang baru ide dan belum sistem secara mendetailnya.

Advertisements